Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KRISTEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KRISTEN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2011

TAKUT AKAN TUHAN MEMERDEKAKAN KITA

TAKUT kepada Tuhan merupakan tuntutan Tuhan. Sebagaimana tertulis dalam Ulangan 6: 1-3, umat dituntut untuk takut kepada Tuhan, bukan saja satu generasi tetapi semua generasi, artinya bukan hanya orang tua tetapi juga anak-anak. Maka orang tua yang mewarisi rasa takut yang benar kepada Tuhan harus menurunkannya kepada anak-anaknya. Tetapi takut di sini bukan dalam pengertian “ngeri”, tetapi hormat kepada Tuhan. Adalah sangat mengerikan ketika kita tidak lagi punya rasa takut kepada Tuhan. Benak kita yang dipenuhi dosa membuat tidak ada lagi ruang untuk takut kepada Tuhan.

Mengapa kita harus takut kepada Tuhan? Pertama karena Tuhan yang menciptakan kita. Sudah pada tempatnya kita takut pada-Nya, karena Dia bukan saja pencipta, tetapi juga pemelihara. Jikalau Dia tidak mau memelihara hidup kita, mau apa kita? Dia Sang Pencipta yang setia di dalam pemeliharaan-Nya, maka Dia menuntut kita untuk takut kepada Dia. Bukankah itu logis? Tanpa diminta pun sudah seharusnya kita takut kepada Tuhan. Kedua, Dia adalah pencipta dan pemelihara tetapi juga pencemburu. Pengertian pencemburu di sini adalah Dia tidak mau melihat kita berbuat dosa, Dia Allah yang menuntut kita hidup kudus di hadapan-Nya sebagaimana Dia kudus adanya. Takut akan Allah itu menum-buhkembangkan sikap hormat yang akan memberikan warna keagamaan yang absolutely benar. Ketika agama-agama menampilkan keberingasan, tidak lagi mampu mengekspresikan cinta kasih seperti tuntutan Tuhan, hidup suci seperti tuntutan Tuhan, patut dipertanyakan apakah agama itu betul-betul takut kepada Tuhan, atau hanya sekadar semboyan dan slogan mengatakan takut kepada Tuhan, tetapi pada hakekatnya tidak. Takut akan Tuhan menjadi penting dalam hidup kita, karena tanpa Dia hidup kita tidak mempunyai arah. Tanpa Dia, pergumulan hidup akan menjadi kepahitan dan kesakitan yang menghimpit dan menghancurkan kita. Tetapi di dalam takut akan Allah, kita akan menikmati pemeliharaan itu, yang artinya juga menikmati kehidupan. Di situlah nikmatnya kebersamaan kita dengan Dia. Takut akan Allah tidak boleh dalam gelap mata yang sekadar sebuah statemen tetapi tidak dipahami secara utuh apa maksudnya. Takutlah akan Tuhan Allahmu karena engkau layak takut kepada Dia, yang sudah menjadikan dan memeliharamu, sehingga tiada satu hari akan bergulir jikalau bukan karena campur tangan Tuhan. Tiada sesuatu pun yang hebat dalam diri kita. Orang yang takut akan Tuhan akan melakukan apa yang Tuhan suka. Orang yang takut Tuhan akan memelihara hubungan baiknya dengan Tuhan melalui perenungan, doa, saat teduh yang membawa dia semakin dekat kepada Tuhan. Tidak membuat bodohOrang yang takut Tuhan akan memiliki hidup yang sangat menyenangkan, menggembirakan semua orang, karena dia men-demonstrasikan buah-buah di dalam kehidupannya. Takut akan Tuhan tidak akan membuat kita menjadi bodoh, kehilangan gairah hidup. Takut akan Tuhan tidak membuat kita terkurung, tetapi justru memerdekakan kita. Takut akan Tuhan akan memberikan berbagai nuansa dan kegembiraan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan menolong kita menemukan kesejatian hidup. Alkitab berkata: berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, karena takut akan Tuhan mendatangkan kebahagiaan dan pemahaman dan penge-tahuan. Takut akan Tuhan harus menjadi kekayaan di dalam hidup kita, menjadi kegairahan bahwa Tuhan itu hidup, membimbing dan menuntun kita. Takut akan Tuhan membuat kita merdeka dari rasa takut, karena takut Tuhan secara positif menghilangkan rasa takut atas apa pun, termasuk dalam perjalanan menyongsong masa depan. Bagi orang yang takut Tuhan, kebahagiaan itu bukan bergantung pada berapa besar ekonomi, berapa sehatnya, tingginya posisi atau jabatan, tetapi tergantung pada berapa takutnya kita pada Tuhan. Maka Tuhan akan memberikan kita kekuatan di dalam kesakitan. Tuhan akan memberikan rasa syukur yang limpah. Ketika kita berlimpah dalam hidup, itu bukan masalah, karena ketika kurang saja pun kita mampu bahagia. Maka kurang, tambah, sehat, sakit, naik turun, itu hanya menjadi dinamika di dalam kehidupan. Tetapi pada inti dan hakekatnya tetap menaruh peng-harapan pada Tuhan. Maka jangan lari dari pimpinan Tuhan. Lakukan kehendak-Nya. Takutlah akan Dia, karena itu akan menjamin bukan hanya dirimu tetapi anak-cucumu, serta memberi ketenangan dan kelegaan. Banyak orang, hanya untuk menunjukkan keberanian, mende-monstrasikan tidak takut akan Tuhan, dengan cara membuat orang takut pada mereka. Mereka tampil garang, menekan dan menghimpit orang lain. Tapi mereka tidak sadar dia sudah membunuh dan menghabiskan dirinya, kehi-langan cinta kasih dari Tuhan. Orang-orang yang takut Tuhan tidak merasa perlu untuk membuat orang lain takut. Justru orang yang takut Tuhan menimbulkan rasa suka dan senang bagi orang lain, karena dia diliputi dan hidup dalam kebenaran. Orang tua yang takut Tuhan akan memberikan ketenangan bagi batin anak-anaknya. Sebaliknya, suami-suami yang tidak takut Tuhan hanya menciptakan rasa takut terhadap istrinya. Orang-orang tua yang tidak takut Tuhan akan menciptakan malapetaka di dalam rumah tangganya. Anak-anak hanya tunduk karena rasa takut. Jadi kalau mau bahagia keluargamu, takutlah akan Tuhan.Jadi, camkan dan pikirkan baik-baik. Jangan habiskan rasa takutmu pada tempat yang salah, seperti: takut pada masa depan, takut pada kehidupan. Tetapi habiskanlah rasa takutmu pada tempat yang pas dan tepat: takut akan Tuhan dengan hidup memuliakan nama-Nya. Ini kata kunci dalam kebahagiaan. Karena itu takutlah akan Tuhan, karena memang itulah pusat kebahagiaan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan tidak sama dengan mulut kita mengatakan takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan sama dengan hidup mengekspresikan cinta kasih yang utuh dalam buah-buah nyata yang bisa dilihat mata. Dan orang lain bisa menilai dan tahu: “Inilah orang yang takut akan Tuhan”. Ini tidak bisa dimanipulaisi, bukan sekadar gaya dan penampilan, kerohanian, teriakan atau kesaksian, bukan pula demonstrasi keagamaan, tetapi keluar dari hati yang jujur. Takutlah pada Tuhan dengan memilih ketetapan-ketetapan-Nya, bukan ketetapan dunia, sehingga engkau berani seperti yang dikatakan Yesus: “Kalau mau ikut Aku sangkal diri, pikul salib!”

MENGKRITISI YANG DIURAPI

MUNGKIN judul di atas dianggap tak lazim oleh sekelompok orang. Bagi yang lainnya, berpikir tentang apa yang dimaksud dalam kata yang diurapi. Tapi mungkin ada juga yang dengan segera akan berkata, “Ini tidak benar!” Setiap pendapat terhadap sebuah judul itu biasa, tapi akan menjadi sangat menyedihkan jika tak membaca tuntas. Mari kita mulai dengan kata-kata “yang diurapi”, yang sekarang ini seringkali dipakai dalam lingkungan orang Kristen, khususnya menyangkut hamba-hamba Tuhan yang dianggap hebat oleh dan dengan ukuran umat. Istilah lagi ngetop, naik daun, di kalangan para selebritis, ternyata menyelinap ke dalam dunianya pengkhotbah. Sehingga pengkhotbah kini disorot dari aspek populernya, jumlah undangan khotbahnya, dan tentu saja luas area khotbahnya. Sayangnya semua penilaian tentang pengkhotbah seringkali mengesampingkan asas yang justru terpenting, yaitu kehidupan moralnya, perilaku ekonominya, dan keluarganya. Pengkhotbah kini dijadikan sebagai pengundang masa. Maklum, sebuah ibadah terbilang sukses jika pengunjungnya membeludak. Ibadah adalah kuantitas, bukan lagi kualitas.

Nah pengkhotbah yang populer itu disebut sebagai hamba Tuhan “yang diurapi”. Dalam Perjanjian Lama (PL), kata diurapi secara asasi menunjuk kepada tindakan ilahi. Itu sebab mereka yang diurapi adalah yang memiliki jabatan nabi (1 Raj 19: 16), imam (Keluaran 28: 41), raja (2 Samuel 2: 4), dalam pengertian ditahbiskan sebagai alat khusus bagi Allah. Begitu juga jika menyangkut benda tertentu, seperti tabut perjanjian dan perkakas bait Allah, diurapi yang berarti dikhususkan sebagai alat yang suci. Tetapi ingat, bukan alatnya yang suci, melainkan tujuan pemakaian alatnya. Itu sebab Allah akan murka jika umat mengultuskan benda apa pun, sebagaimana diatur dalam 10 hukum. Dalam pengurapan digunakan minyak yang dibuat dengan aturan yang ketat, begitu juga penggunaannya (Keluaran 30: 25). Orang yang membuat minyaknya sembarangan, atau menggunakannya sembarang-an akan dihukum mati (Keluaran 30: 33). Minyak yang dicurahkan dari buli-buli ini adalah merupakan simbol Roh Kudus.

Begitu juga dalam Perjanjian Baru (PB), minyak urapan merupakan simbol dari Roh Kudus. Dalam praktek masa kini, gereja membaptis umat dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dengan memakai air, juga adalah simbol dari Roh Kudus. Artinya, minyak adalah simbol, bukan benda magis. Tetapi tujuannya, yaitu pengurapan adalah suci. Maka siapa yang sembarangan Tuhan akan menghukumnya. Bentuk hukuman di era PL terus bergerak dinamis hingga ke era PB. Misalnya di PL yang sembarangan akan dilenyapkan (dihukum mati), tidak lagi di PB, tetapi tetap menjadi orang yang terhukum di hadapan Allah. Bentuk hukumannya yang berubah. Karena itu mengultuskan minyak sebagai benda magis adalah sebuat tindakan jahat, yang sama sekali tidak kristiani. Allah-lah sumber berkat, sumber penyembuh bagi umat-Nya, dengan atau tanpa minyak urapan.

Nah, sekarang pada hamba yang diurapi. Yang pertama, jika menyangkut gelar maka itu hanya ada satu, yaitu Tuhan Yesus Kristus (Kristus artinya Yang Diurapi). Jadi sangat mengerikan jika orang Krsiten memakai kata yang diurapi tanpa memahami arti kata itu sebagai gelar. Karena itu, mengingat hal ini bisa rancu, lebih baik hamba Tuhan disebut saja hamba yang sungguh-sungguh. Sementara yang kedua, jika itu menyangkut penahbisannya, maka semua pendeta ditahbiskan, yang berarti diurapi (dengan penumpangan tangan sebagai simbol berkat Allah Bapa, Anak, Roh Kudus). Artinya, tidak ada pendeta yang tidak diurapi (kecuali memang seseorang yang hanya mengaku, namun tidak jelas institusi gerejanya). Nah, dengan begini menjadi jelas bagi kita memahami arti kata “yang diurapi” dan bagaimana pemakaian yang bertanggung jawab dan tepat.

Sekarang bagaimana dengan kata jangan mengusik hamba yang diurapi Tuhan, yang membuat jemaat takut mengkritisi hamba Tuhan, bahkan yang jelas-jelas salah? Sembarang mengkritik, apalagi memfitnah seorang hamba Tuhan, tentu tak elok. Jangankan seorang hamba Tuhan, terhadap semua orang hal itu jelas tidak baik. Namun sebaliknya, mendiamkan kesalahan, atau tindakan tak terpuji, adalah perbuatan salah, termasuk jika yang salah itu adalah seorang hamba Tuhan sekalipun. Saling mengingatkan, menegur, untuk membangun, adalah semangat tubuh Kristus yang sehat. Namun memang perlu aturan yang jelas terhadap seorang hamba Tuhan. Teguran bisa dilakukan oleh tim hamba Tuhan, atau mereka yang dituakan dalam jemaat. Hamba Tuhan yang baik pasti tidak keberatan, karena teguran dalam kebenaran adalah kasih yang mendidik.

Memakai kasus Daud dan Saul, di mana Daud berkata, “Jauhlah dariku membunuh orang yang diurapi Tuhan, sangatlah tak layak”. Daud jelas menyatakan sikap melawan atas perilaku Saul yang semena-mena. Pelarian Daud dari hadapan Saul menjadi sikap yang mudah dibaca dan dipahami. Yang tak ingin dilakukan Daud adalah membunuh Saul, yang diurapi (ditahbiskan menjadi raja) oleh Tuhan sendiri. Daud menyerahkan soal hidup mati, atau pergantian posisi menjadi raja di antara mereka, kepada Tuhan sebagai yang berhak. Jadi, ini bukan soal Daud tidak menegur, atau tidak menyatakan sikap, sangat beda. Jadi, kasus Daud tak boleh dijadikan contoh agar tak menegur hamba Tuhan yang salah. Mengusik hamba Tuhan, memang tak disukai oleh Tuhan, jika itu dilakukan oleh orang tak benar. Dan sebaliknya, hamba Tuhan yang benar tentu tak perlu ditegur, yang perlu adalah hamba Tuhan yang tidak benar.

Dalam ketidakbenarannya si hamba Tuhan telah menunjukkan bahwa dia bukan seorang hamba Tuhan. Namun jika seorang hamba Tuhan berbuat salah, dan me-ngakuinya, maka sudah seharusnya sikapnya dihargai. Yang perlu ditegur adalah hamba Tuhan yang mencari keuntungan diri atau cacat moral namun bersikap seakan tak salah. Di sinilah letak persoalan integritas, yaitu ketika orang berusaha menyembunyikan dirinya dari kesalahan dengan cara bersembunyi di balik ayat-ayat suci yang dipelintir. Seorang hamba Tuhan yang berintegritas tak perlu resah dikritik. Karena hamba Tuhan yang berintegritas pastilah seorang yang berkualitas.

Mengkritisi sebutan hamba Tuhan yang diurapi menjadi signifikan di situasi di mana terjadi degradasi moral di lingkungan gereja. Seperti Yesus menyucikan Bait Suci yang ternyata tak lagi suci, begitulah kita di jaman ini dituntut untuk berani menyucikan diri dengan sikap mengkritisi diri sendiri. Mari mengintropeksi diri agar tak rajin bersembunyi di balik ayat-ayat suci sebagai tameng diri. Untuk itu jagalah perilaku hidup, perilaku ekonomi, perilaku sosial, sehingga orang percaya hadir nyata, bukan sekadar pemanis agama. Apalagi bagi yang berani berdiri di mimbar agama, harus berani terbuka, dan teruji nilai moralitasnya. Jangan lagi terbiasa menghindari kritikan dengan berkata jangan mengkritik hamba Tuhan “yang diurapi” cukuplah salah untuk salah, benar untuk benar, tak perlu berdalih. Tak boleh lagi pembodohan terjadi dalam hidup bergereja di mana umat diindoktrinasi sehingga tak lagi kritis.

Umat Kristen harus menjadi model dalam integritasnya, terlebih lagi para pengkhotbah. Mengkritisi “yang diurapi”, mari ramai-ramai kita lakoni, bukan karena membenci tapi sebaliknya karena mengasihi. Kritisi hamba Tuhan yang tidak benar kehidupannya. Kritisi khotbah-khotbah yang ngawur, kon-troversial, dan jauh dari ajaran Alkitab. Sehingga kita mem-persempit ruang bagi kekacauan dalam kehidupan bergereja. Bagaimanapun harus diakui bahwa semakin panjang barisan pengkhotbah dengan sejuta masalah, mulai dari kasus pajak, keuangan gereja, perceraian, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga kasus moral lainnya. Dan gawatnya, yang terlibat justru para pengkhotbah dengan label hamba “yang diurapi”. Yang dengan gelap mata umat justru membela dan menyembunyikannya. Sebagai orang percaya kita rindu gereja yang bersih, jujur, dan berintegritas. Ayo maju dengan mengkritisi label-label yang dipakai pengkhotbah untuk menyembunyikan diri. Selamat mengkritisi diri sendiri, selamat intropeksi, agar semua kita bersama bisa bersih diri. Semoga.

Senin, 30 Agustus 2010

Ringkasan Kisah kemartiran para Rasul

Sejarah tradisi
gereja banyak sekali
memberikan
informasi mengenai
kehidupan sampai
dengan bagaimana
wafatnya para rasul.
Satu penulis sejarah
yang bisa
dipertanggung
jawabkan tulisannya
berdasarkan bukti-
bukti nyata ialah
Eusebius. Ia menulis
buku mengenai cara
meninggalnya para
Rasul di tahun 325
yang berjudul:
“Rasul dan murid
dari Juruselamat
telah menyebarkan
dan mengkotbahkan
Injil ke seluruh
dunia”. Tulisan dari
Eusebius telah
ditelusuri dan
diselidiki ulang oleh
penulis sejarah
gereja kondang Mr.
Schumacher untuk
membuktikan akan
kebenaran dari
tulisan tersebut.
1. MATIUS meninggal
dunia, karena disiksa
dan dibunuh dengan
pedang di Etiopia.
2. MARKUS meninggal
dunia di Alexandria
(Mesir), setelah
badannya diseret
hidup-hidup dengan
kuda melalui jalan-
jalan yang penuh
batu sampai ia
menemukan ajalnya.
3. LUKAS mati
digantung di Yunani,
setelah ia
berkhotbah di sana
kepada orang-orang
yang belum
mengenal Tuhan.
4. YOHANES direbus
atau lebih tepatnya
digoreng di dalam
bak minyak mendidih
di Roma, tetapi
karena Tuhan masih
ingin memakai
Yohanes lebih jauh,
maka keajaiban
terjadi sehingga
walaupun ia telah
digoreng hidup-hidup
ia bisa hidup terus.
Tetapi akhirnya ia
dibuang dan
diasingkan ke pulau
Patmos untuk kerja
paksa di tambang
batubara disana.
Pada saat ia berada
di sana, ia
mendapatkan wahyu
sehingga ia bisa
menulis Kitab Wahyu.
Kemudian ia
dibebaskan dan
akhirnya kembali
dan menjadi Uskup di
Edessa (Turki). Ia
adalah satu-satunya
Rasul yang bisa
mencapai usia lanjut
dan bisa meninggal
dunia dengan
tenang.
5. PETRUS telah
disalib dengan
kepala di bawah.
Kayu salib untuk
Petrus dipasangnya
berbeda, ialah secara
huruf X, karena
itulah permohonan
yang ia ajukan
sebelum ia disalib,
dimana ia memohon
untuk disalib dengan
cara demikian. Ia
merasa tidak layak
untuk mati dan
disalib seperti Tuhan
Yesus.
6. YAKOBUS saudara
tiri TUHAN YESUS dan
pemimpin gereja di
Yerusalem, dilempar
ke bawah dari
puncak bubungan
Bait Allah, di tempat
yang sama dimana si
setan dahulu
membawa Tuhan
Yesus untuk digoda.
Ia meninggal dunia
setelah dilempar dari
tempat tinggi
tersebut.
7. YAKOBUS anak
Zebedeus adalah
seorang nelayan dan
ia adalah murid
pertama yang
dipanggil untuk ikut
Tuhan Yesus, ia
dipenggal kepalanya
di Yerusalem. Pada
saat-saat ia
disiksapun, ia tidak
pernah menyangkal
Tuhan Yesus, bahkan
ia berusaha untuk
berkhotbah terus,
bukan hanya kepada
para tawanan
lainnya saja, bahkan
kepada orang yang
menghukum dan
menyiksa dia dengan
kejamnya. Sehingga
akhirnya orang
Romawi yang
menjadi penjaga dan
penyiksa dia, bisa
turut bertobat.
Penjaga Romawi itu
mendampingi
Yakobus pada saat ia
dihukum penggal,
bukannya sekedar
hanya untuk turut
menyaksikannya
saja, melainkan juga
untuk turut dihukum
dan dipenggal
bersama dengan
Yakobus. Pada saat
ia mau menjalani
hukuman mati, ia
berlutut bersama di
samping Yakobus,
sambil berdoa, itu
adalah doanya yang
terakhir, sebelum ia
mati dipenggal
bersama Yakobus
sebagai orang
Kristen.
8. BARTOLOMEUS
yang lebih dikenal
sebagai natanael ia
menjadi misionaris di
Asia, antara lain ia
memberikan
kesaksian di Turki. Ia
meninggal dunia di
Armenia setelah ia
mendapat hukuman
pukulan cambuk
yang sedemikian
kejamnya sehingga
semua kulitnya
menjadi hancur
terlepas kebeset.
9. ANDREAS juga
disalib seperti Petrus
dengan cara X di
Yunani. Sebelum ia
meninggal, ia disiksa
dengan hukum
cambuk oleh tujuh
tentara dan diikat di
salib. Dengan cara
demikian mereka
bisa memperpanjang
masa sakit dan masa
siksaannya. Seorang
pengikut Andreas
yang turut
menyaksikan
hukuman Andreas
menceritakan
perkataan yang
telah diucapkan oleh
Andreas sebelum ia
meninggal dunia:
“Ternyata
keinginan dan cita-
cita saya bisa
terkabul dimana
saya bisa turut
merasakan “happy
hours” dengan
disiksa dan disalib
seperti Tuhan
Yesus.” Bahkan
pada saat ia disiksa
pun tiada henti-
hentinya ia
berkhotbah terus, ia
berkotbah terus dua
hari sebelum ajalnya
tiba. Berkotbah
sambil dihukum
cambuk.”
10.Rasul THOMAS
mati ditusuk oleh
tombak di India.
11.YUDAS saudara
TUHAN YESUS
dihukum mati
dengan panah,
karena ia tidak
bersedia untuk
mengingkari Tuhan
Yesus.
12.MATIAS, rasul
pengganti dari Yudas
Iscariot mati
dihukum rajam dan
akhirnya dipenggal
kepalanya.
13.Rasul PAULUS
disiksa dengan
sangat kejam dan
akhirnya dipenggal
kepalanya oleh
Kaiser Nero di Roma
pada tahun 67. Rasul
Paulus adalah rasul
yang paling lama
mengalami masa
siksaan dipenjara.
Kebanyakan surat-
surat dari Rasul
Paulus dibuat dan
dikirim dari pernjara.
14.Disamping kisah
para rasul yang
ditulis oleh ahli
sejarah Eusebius, ia
juga menceritakan
tentang SEORANG
PENGINJIL yang
matanya dibakar
sampai buta dengan
catatan bahwa kalau
ia buta, maka ia
tidak akan bisa
membaca Alkitab lagi
dengan mana ia
tidak akan bisa
mengabarkan Injil
lagi. Tetapi
kenyataannya ia
tetap
mengambarkan Injil
berdasarkan ayat-
ayat yang telah
dipelajari dan diingat
sebelumnya.

Jumat, 27 Agustus 2010

Pengertian Tentang Lahir Baru

Seseorang yang
sudah benar-benar
lahir baru, yang
diberikan sebagai
"kasih
karunia" (anugerah)
dari Tuhan tidak
dapat menahan
kuasa kasih karunia
Tuhan untuk
menyelamatkannya.
Dan Tuhan akan
menyelamatkan
semua orang2 pilihan
yang ingin Ia
selamatkan, dan
tidak satu orangpun
yang dapat
menghalangi
rencana Tuhan.
Yesus berkata di
Yohanes 10:27-29:
"Domba-domba-Ku
mendengarkan
suara-Ku dan Aku
mengenal mereka
dan mereka
mengikut Aku, dan
Aku memberikan
hidup yang kekal
kepada mereka dan
mereka pasti tidak
akan binasa sampai
selama-lamanya dan
seorangpun tidak
akan merebut
mereka dari tangan-
Ku. Bapa-Ku, yang
memberikan mereka
kepada-Ku, lebih
besar dari pada
siapapun, dan
seorangpun tidak
dapat merebut
mereka dari tangan
Bapa."
Allah yang kita
sembah adalah
Tuhan Yang Maha
Kuasa, dan Ia adalah
"pengarang dan
penyelesai" dari
iman kita jika itu
adalah iman yang
diberikan sebagai
kasih karunia dari
Tuhan. Alkitab
berkata di Ibrani
12:2a (versi BIS):
"Hendaklah
pandangan kita
tertuju kepada
Yesus, sebab Dialah
yang
membangkitkan
iman kita dan
memeliharanya dari
permulaan sampai
akhir".
Karena itu dijamin
kalau kita sudah
betul-betul
diselamatkan kita
tidak dapat
kehilangan
keselamatan
tersebut (Roma
8:35-39). Nah,
sekarang kapan kita
bisa mengetahui
kalau kita sudah
betul-betul
diselamatkan?
Alkitab berkata
misalnya di Roma
8:16:
"Roh Allah akan
bersaksi bersama-
sama dengan roh
kita, bahwa kita
adalah anak-anak
Allah."
Dan di 1 Yohanes
2:3-6 berkata: "Dan
inilah tandanya,
bahwa kita
mengenal Allah, yaitu
jikalau kita menuruti
perintah-perintah-
Nya. Barangsiapa
berkata: Aku
mengenal Dia, tetapi
ia tidak menuruti
perintah-Nya, ia
adalah seorang
pendusta dan di
dalamnya tidak ada
kebenaran. Tetapi
barangsiapa
menuruti firman-
Nya, di dalam orang
itu sungguh sudah
sempurna kasih
Allah; dengan itulah
kita ketahui, bahwa
kita ada di dalam Dia.
Barangsiapa
mengatakan, bahwa
ia ada di dalam Dia, ia
wajib hidup sama
seperti Kristus telah
hidup."
Memang sebagai
manusia kita terdiri
dari tubuh (daging)
dan jiwa (roh), dan
sebelum
diselamatkan baik di
dalam keadaan
tubuh maupun jiwa
kedua-duanya sama-
sama memberontak
terhadap Allah, jadi
Roh Allah (Allah Roh
Kudus) tidak dapat
bersaksi di dalam
kehidupan orang-
orang yang belum
diselamatkan karena
mereka masih belum
mengenal Allah. Ini
membuktikan bahwa
seorang yang belum
dilahirkan kembali
tidak dapat masuk
kedalam surga.
Yohanes 3:5 berkata:
"Jawab Yesus: "Aku
berkata kepadamu,
sesungguhnya jika
seorang tidak
dilahirkan dari air
[Injil] dan Roh [Allah
Roh Kudus], ia tidak
dapat masuk ke
dalam Kerajaan
Allah."
Tetapi ketika kita
sudah betul-betul
diselamatkan, kita
menerima --
kebangkitan jiwa
yang sama sekali
baru -- dimana
didalam keadaan
jiwa kita sudah tidak
mau untuk berbuat
dosa lagi. Tuhan
berkata di 1 Yohanes
3:9: "Setiap orang
yang lahir dari Allah,
tidak berbuat dosa
lagi; sebab benih ilahi
tetap ada di dalam
dia dan ia tidak
dapat berbuat dosa,
karena ia lahir dari
Allah"
Allah juga berbicara
tentang
transformasi rohani
ini di 1 Petrus 1:23
dimana kita baca:
"Karena kamu telah
dilahirkan kembali
bukan dari benih
yang fana, tetapi
dari benih yang tidak
fana, oleh firman
Allah, yang hidup dan
yang kekal."
Dalam kata lain akan
ada perubahan yang
besar dan nyata di
dalam kehidupan
kita ketika kita
sudah betul-betul
diselamatkan.
Sebagai contoh kalau
kita melihat
kehidupan kita
beberapa tahun yang
lalu kita akan
melihat perubahan2
besar yang membuat
kita semakin
menuruti kehendak-
kehendak Allah.
Adalah benar
walaupun setelah
diselamatkan
(menerima
kebangkitan jiwa
yang baru) kita
masih mempunyai
tubuh yang belum
dibangkitkan dan
masih ingin untuk
berbuat dosa (Roma
7). Tetapi setiap kali
kita ingin untuk
berbuat dosa, kita
akan merasa tidak
nyaman di dalam
jiwa kita. Akan ada
"pertentangan" (konflik)
yang besar di dalam
jiwa kita kalau kita
ingin untuk berbuat
dosa. Dan disaat
yang sama dengan
itu kita mempunyai
keinginan yang jujur,
sungguh-sungguh
dan terus menerus
untuk melakukan
kehendak-kehendak
Allah. Kita akan
merasa sangat sedih
dan terganggu jika
kita terus- menerus
memberontak
terhadap Allah dan
jatuh ke dalam dosa.
Disisi lain kita akan
bersuka-cita dalam
membaca Alkitab
dan bersedia
menyediakan
semakin banyak
waktu untuk
mempelajari firman
Tuhan didalam
Alkitab. Allah Roh
Kudus memberikan
jaminan didalam
kebangkitan jiwa
kita yang baru,
bahwa di dalam
keadaan jiwa kita
yang baru kita
adalah seorang anak
Tuhan dan semakin
mau untuk menjadi
patuh pada
kehendak2 Tuhan
didalam Alkitab.
Dan perlu kita ingat
bahwa keadaan lahir
baru tidak sama
dengan keadaan
bahwa seseorang
sudah menerima
Yesus Kristus
sebagai
Juruselamatnya,
atau ia sudah pernah
melakukan upacara
baptis air, atau ia
sudah menjadi
anggota gereja
tertentu atau ia
sudah menerima
upacara perjamuan
kudus secara tetap.
Menerima Yesus
secara pribadi atau
melakukan
sakramen-sakramen
adalah pekerjaan
yang kita lakukan
sendiri, dan
pekerjaan yang kita
lakukan sendiri tidak
dapat
menyelamatkan kita
(Efesus 2:8-9, Titus
3:5, Roma 11:6).
Dalam kata lain kita
harus menunggu
Tuhan untuk
menggenapkan
keselamatan kita
menurut jadwal dan
kerelaan-Nya, di
Roma 9:16 Tuhan
berkata: "Jadi hal itu
[yaitu keselamatan]
tidak tergantung
pada kehendak
orang atau usaha
orang, tetapi kepada
kemurahan hati
Allah."
It is good that a man
should both hope and
quietly wait for the
salvation of the
LORD. (Lamentations
3:26)

KEilahian YESUS dipandang dari Sudut Mukjizat-MukjizatNYA

Oleh: Young
Christianity
Hidup Yesus penuh
mujizat sejak awal
dia berada di bumi.
Dia lahir dari seorang
perawan (Matius
1:18,20-21), Yesus
mengubah air
menjadi anggur
(Yohanes 2:1-11),
berjalan di atas air
(Matius 14:25),
melipat gandakan
roti (Yohanes 6:11),
memelekkan mata
orang buta (Yohanes
9:7), membuat orang
lumpuh bisa berjalan
(Markus 2:1-12),
mengusir setan
(Markus 5:1-20),
menyembuhkan
berbagai penyakit
(Matius 9:35), dan
beberapa kali
membangkitkan
orang dari kematian
(Matius
9:23-26;Lukas
7:11-17;Yohanes
11:38-44).
Ketika murid-murid
Yohanes Pembaptis
menanyakan
kepada-Nya apakah
Dia mesias, Yesus
menjawab
mujizatnya sebagai
bukti bahwa Dia
mesias: `Pergilah dan
katakanlah kepada
Yohan es apa yang
kamu dengar dan
kamu lihat: orang
buta melihat, orang
lumpuh berjalan,
orang kusta menjadi
tahir, orang tuli
mendengar, orang
mati dibangkitkan
dan kepada orang
miskin diberitakan
kabar baik.` (Matius
11:4,5). Mujizat-
mujizat seperti ini
merupakan tanda
adanya persetujuan
Tuhan kepada orang
yang melakukan
mujizat. Mujizat-
mujizat ini
merupakan
penggenapan dari
apa yang ditulis
Yesaya 700 tahun
sebelum Yesus lahir
ke bumi: `Pada
waktu itu mata
orang-orang buta
akan dicelikkan, dan
telinga orang-orang
tuli akan dibuka.
Pada waktu itu
orang lumpuh akan
melompat seperti
rusa, dan mulut
orang bisu akan
bersorak-sorai.`
(Yesaya 35:5,6).
Adalah seorang Farisi
yang bernama
Nikodemus, seorang
pemimpin agama
Yahudi. Ia datang
pada waktu malam
kepada Yesus dan
berkata: "Rabi, kami
tahu, bahwa Engkau
datang sebagai guru
yang diutus Allah;
sebab tidak ada
seorangpun yang
dapat mengadakan
tanda-tanda yang
Engkau adakan itu,
jika Allah tidak
menyertainya.
(Yohanes 3:1-2).
Pada waktu Yesus
dibaptis, muncul
suatu suara dari
sorga `Inilah Anak-Ku
yang Kukasihi,
kepada-Nyalah Aku
berkenan.` (Matius
3:17). Ini merupakan
tanda dukungan
Allah Bapa terhadap
pekerjaan dan
keilahian Yesus.
Mujizat adalah suatu
bentuk konfirmasi/
persetujuan ilahi
atas suatu
kebenaran/
pekerjaan yang
dikerjakan
seseorang yang
diutus Tuhan. Mujizat
yang dihubungkan
dengan pernyataan
Yesus tentang
keilahian diri-Nya,
mengkonfirmasi
bahwa Dia benar-
benar Tuhan.

Mengenal Suara Sang Gembala Agung

Penulis : Jonathan K.
Tunggal
Yoh.10:14 "Akulah
gembala yang baik
dan Aku mengenal
domba-dombaKu dan
domba-domba-Ku
mengenal Aku."
Yoh.10:16b "...dan
mereka akan
mendengarkan
suara-Ku...."
Hasrat dari umat
percaya adalah
untuk mentaati
secara sepenuh
segala titah dan
ketetapan Tuhan.
Tetapi banyak yang
berkeluh kesah,
"Maksud hati
memeluk gunung,
apa daya tangan tak
sampai!" Penulis
percaya bahwa kita
sekalian rindu untuk
selalu berjalan di
dalam prinsip Tuhan
karena kita tahu
bahwa ini
mengakibatkan
tercurah-nya berkat
berkelimpahan
dalam hidup kita
masing-masing (Kel.
28). Tetapi, seringkali
kita terbentur akan
keterbatasan dan
ketidak-mengertian
kita akan suaraNya.
Padahal, Tuhan
Yesus menyatakan
bahwa dombaNya
mengenal suaraNya
(Yoh.10). Jadi,
kenyataan hidup
rohani kita adalah
keterbatasan akan
pendengaran
suaraNya. Bilamana
dombaNya dapat
mengenal suaraNya,
maka bukankah
betapa pentingnya
kita rindu menjadi
"domba". Mengapa
penulis berkata kita
harus "rindu"?
Apakah tidak semua
umat Kristen
otomatis adalah
domba-dombaNya?
Penulis rasa tidak,
karena tidak semua
orang yang disebut
sebagai umat
Kristiani mengenal
suaraNya. Tidak
kenal suaraNya, jadi
buk an domba.
DombaNya mengenal
suaraNya.
Bagaimana? Jadilah
hamba terdahulu!
Apakah hubungan
untuk belajar
menjadi hamba dan
bersikap menjadi
domba? (Bandingkan
dengan Mazmur 23)
a) Hamba: siap
diperintah oleh
Tuannya. Domba:
siap tanpa banyak
keluh-kesah untuk
dibawa ke air yang
tenang.
Seringkali kita terus-
menerus mengomel
dan mengeluh, tetapi
sebagai akibatnya
kita tidak
menangkap suara
Roh Kudus yang
sangat lemah-
lembut dan
menghibur. Bilamana
sebagai hamba kita
terbiasa untuk
diperintah, maka
sebagai domba kita
siap untuk tinggal
diam. Diam secara
jasmaniah terhadap
semua gangguan dan
juga diam secara
rohani di mana hati
yang penuh galau
menjadi penuh
damai.
b) Hamba: karena
hanya taat kepada
Tuannya, tidak risau
akan akibat
tindakan. Domba:
siap berbaring di
padang yang
berumput hijau.
Kerapkali kita risau
akan keadaan hidup
kita dan tidak mau
ditenangkan.
Sebagai akibat,
hanya kuatir dan
risau yang
menguasai hati dan
pikiran, bukan suara
Firman Tuhan.
Hamba taat dan tahu
bahwa bilamana
taat, semua
tanggung-jawab
sudah dipikul oleh
Tuannya. Kalau tidak
risau, maka kita
mulai masuk padang
yang berumput hijau.
Hati tenang di
dalamNya, maka
suara Gembala akan
sangat jelas.
c) Hamba: diberi upah
oleh Tuannya.
Domba: siap untuk
tidak akan
kekurangan.
Banyak umat Kristen
tidak siap, bahkan
tidak percaya bahwa
hidup Kristiani adalah
hidup penuh pahala.
d) Hamba: setia
kepada Tuannya dan
tinggal di dalam
rumah Tuannya.
Domba: siap untuk
tidak takut akan si
jahat meskipun
berjalan dalam
lembah kekelaman.
Karena selalu setia
dan "bersembunyi"
dalam naunganNya,
maka kekuatiran
hilang.
e) Hamba: siap
dikoreksi/didisiplin
oleh Tuannya.
Domba: siap untuk
percaya bahwa gada
dan tongkat Gembala
itu yang membawa
penghiburan.
Bilamana terbiasa
untuk didisiplin,
sebagai domba kita
tahu mana yang
berkenan dan mana
yang tidak. Tidak ada
kuatir, karena
Gembala Agung akan
selalu membetulkan
segala kesalahan
dan kelemahan.
Marilah menjadi
hamba. Janganlah
kita terburu-buru
mengejar "posisi
atas". Sebelum jadi
pemimpin, bersedia
memulai dari hamba.
Sebelum terburu-
buru menjadi
gembala, harus
belajar menjadi
domba; Sebelum
terburu-buru
menjadi pemimpin
pujian, bersedia
untuk membersihkan
alat musik. Sebelum
berambisi untuk
mengepalai
persekutuan,
bersedia untuk
membersihkan lantai
di mana persekutuan
itu berada. Sebelum
membasuh kaki
sesama, siaplah
untuk menimba air
basuhan. Sebelum
berambisi, bersedia
untuk menyerah
kepada kuasaNya.
Marilah kita belajar
menjadi hamba;
maka sebagai
domba, kita akan
akan mengenal
suaraNya.
Maka, dombaNya
percaya akan
kesetiaanNya.
DombaNya melihat
kebaikanNya.
DombaNya
mengecap
keindahanNya.
Akhirnya, dombaNya
merasakan kebaikan
dan suatu kasih yang
melampaui segala
pengertian dan
pengetahuan, dan
yang akan menyertai
sepanjang hidupnya.
Terpujilah Nama di
atas segala Nama
itu !

Dosa-Dosa Menghujat ROH KUDUS

Penulis : Billy Graham
Menghujat Roh
Kudus (Injil Matius
12:22-32)
Semua dosa manusia
terhadap Roh Kudus
tak ada yang lebih
buruk daripada dosa
menghujat Dia.
Alasannya jelas
sekali: Dosa itu tak
dapat diampuni.
Semua dosa lain
terhadap Roh Kudus
dapat saja dilakukan
oleh orang percaya.
Kita dapat bertobat
daripadanya,
diampuni, dan mulai
lagi secara baru.
Tidak demikian
dengan menghujat
Roh Kudus. Dosa ini
diperbuat oleh
orang-orang yang
tidak percaya dan
sering disebut "dosa
yang tidak dapat
diampuni". Dosa ini
dilakukan oleh
musuh Yesus ketika
mereka menuduh Dia
membuang setan
dengan kuasa setan
setelah dengan jelas
Ia menjelaskan
bahwa Ia mengusir
setan dengan kuasa
dari Roh Allah.
Bagi saya, tak ada
seorang pun yang
telah melakukan
dosa ini yang masih
diganggu,
diyakinkan, dan
ditarik terus oleh
kuasa Roh Kudus.
Selama Roh masih
bergumul dengan
seseorang ia belum
melakukan dosa
yang tak dapat
diampuni ini. Tetapi
bila seseorang itu
telah melawan Roh
Kudus sehingga Ia
tidak lagi bergumul
dengannya, maka
orang itu berada
dalam bahaya kekal.
Dengan kata lain,
dosa yang tak dapat
diampuni
menyangkut
penolakan kepada
Yesus Kristus yang
tak dapat ditarik
kembali.
Saya percaya bahwa
inilah yang
dibicarakan
Stephanus dalam
khotbahnya tak lama
sebelum ia mati bagi
Kristus. Dalam
khotbahnya ia
berkata, "Hai orang-
orang yang keras
kepala.kamu selalu
menentang Roh
Kudus" (Kis. 7:51).
Menurut konteksnya
jelas bahwa
Stephanus
mengatakan,
pertama-tama,
seperti nenek
moyang mereka,
mereka telah
menolak
pemberitaan nabi-
nabi dan utusan Allah
dan tidak
mempercayai
mereka. Maka
pendengarnya
bersalah dalam dosa
yang sama. Dalam PL
kita dapat membaca
bahwa ada orang
yang melawan,
memfitnah,
menganiaya, dan
mengejek nabi-nabi.
Sedangkan para nabi
itu diilhamkan oleh
Roh Kudus, maka
dalam kenyataannya
orang-orang itu
melawan Roh. Maka
kata Stephanus
kepada orang-orang
yang sedang
mendengarkan dia,
jika mereka menolak
mendengarkan
rasul-rasul Kristus
dan orang yang telah
dipilih, yang
berbicara lewat Roh
Kudus, maka mereka
juga menolak Roh
Kudus. Infeksi dosa
yang membawa
maut dalam hati
orang yang belum
dilahirkan kembali,
akan selalu
menyebabkan dia
menentang Roh
Kudus. Tubuh
(daging) dan pikiran
jahat selalu
melawan Dia. Pada
waktu orang-orang
berlaku demikian,
mereka tidak akan
menerima Firman
Allah dengan kuat
kuasa-Nya kecuali
jika Roh Kudus dapat
menang atas
mereka.
Menolak Roh Kudus
adalah dosa yang
hanya dapat
diperbuat oleh
orang-orang yang
tidak percaya. Jadi
itu adalah dosa, jika
diteruskan cukup
lama, akan
membawa
malapetaka yang
kekal. Jalan satu-
satunya bagi semua
orang berdosa,
supaya dapat
diampuni sebab
menolak Roh Kudus,
ialah berhenti
menolak dan
berpaling kepada
Kristus Yesus yang
tentunya Roh Kudus
menyaksikan. Orang
itu hanya
berpengharapan jika
ia dengan segera
bertobat dan
membiarkan Roh
Kudus bekerja di
hatinya. Dosa yang
tak dapat diampuni
adalah penolakan
kebenaran tentang
Kristus. Yaitu
menolak sama sekali
kesaksian Roh Kudus
yang menyatakan
bahwa Yesus Kristus
adalah Anak Allah
dan hanya Dia dapat
menyelamatkan kita
dari dosa-dosa kita.
Mungkin Anda adalah
seorang yang
percaya, tetapi Anda
telah melakukan
dosa yang Anda kira
akan menghalangi
Anda dari
keselamatan. Tak
perduli dosa apa itu,
ingatlah bahwa Allah
mengasihi Anda, dan
Ia ingin mengapuni
dosa itu. Sekarang
juga Anda perlu
mengaku dosa itu
kepada-Nya dan
minta
pengampunan-Nya.
Anda perlu
dibebaskan dari
beban kesalahan dan
keragu-raguan yang
telah menindas Anda.
Kristus mati untuk
membebaskan Anda
daripada keadaan
itu. Jika Anda telah
datang kepada
Kristus, Anda
mengetahui
berdasarkan Firman
Allah bahwa dosa itu
- dosa apa saja -
bukanlah dosa yang
tak dapat diampuni.
Dosa itu tidak akan
mengirim Anda ke
neraka, sebab Anda
telah diselamatkan
oleh iman dalam
cucuran darah
Kristus. Tetapi Anda
perlu mengeluarkan
dosa itu dari hidup
Anda dengan
membuangnya pada
Kristus.
Mendukakan Roh
Kudus (Ef. 4:30)
Sekarang kita
sampai kepada dua
dosa terhadap Roh
Kudus yang dapat
dilakukan oleh orang
Kristen. Yang satu
adalah mendukakan
Roh Kudus dan yang
lain adalah
memadamkan Roh
Kudus. Pertama,
marilah kita lihat
dulu dosa
mendukakan Roh
Kudus.
"Dukacita" atau
"sedih hati" adalah
kata "kasih". Roh
Kudus mengasihi kita
seperti Kristus. Kita
dapat melukai hati
atau
membangkitkan
amarah orang yang
tidak mengasihi kita,
tetapi "medukakan
hati" hanya dapat
kita lakukan
terhadap orang yang
mengasihi kita.
Bagimana orang
Kristen dapat
mendukakan Roh
Kudus? Dalam Ef.
4:20-32 Paulus
mengatakan bahwa
kelakukan apa saja
yang tidak seperti
Yesus, baik
perkataan ataupun
watak mendukakan
Roh kasih karunia.
Roh Kudus adalah
Roh:
Kebenaran (Yoh.
14:17); maka apa
saja yang palsu,
penipuan, ataupun
kemunafikan
mendukakan Dia.
Iman (2Kor. 4:13);
maka keragu-
raguan,
ketidakpercayaan,
kegelisahan,
kekuatiran,
mendukakan Dia.
Kasih karunia
(Ibr.10:29); maka apa
saja di dalam kita
yang keras, pahit,
dengki, tidak ramah,
tidak mengampuni,
atau tidak mengasihi
mendukakan Dia.
Kekudusan (Rm. 1:4);
maka segala sesuatu
yang tidak bersih,
yang mengotorkan,
atau menghina
mendukakan Dia.
Apa yang terjadi jika
kita mendukakan
Roh Kudus? Pada
waktu Ia
berdukacita,
sukacita dan kuasa
di dalam hidup kita
diambil-Nya sampai
kita mengakui dan
meninggalkan dosa
kita. Ini bukan
karena Ia
melepaskan kita,
tetapi sebab Ia
dengan sengaja Ia
membuat kita sedih
sampai kita
berpaling kembali
kepada Kristus
dengan hati yang
hancur, kesedihan,
dan pengakuan. Saya
yakin bahwa satu
kali kita telah
dibaptiskan ke dalam
tubuh Kristus dan
didiami oleh Roh
Kudus, kita tak akan
ditinggalkan oleh Roh
lagi. Kita
dimeteraikan untuk
selamanya. Dan ia
adalah jaminan akan
apa yang akan
datang. Memang
sebagai Roh kasih,
Roh Kudus
berdukacita pada
waktu kita berdosa,
sebab Ia mengasihi
kita.
Memadamkan Roh
(1Tes. 5:19)
Menghujat Roh
Kudus adalah dosa
yang dilakukan oleh
orang yang tidak
percaya.
Mendukakan dan
memadamkan Roh
adalah dosa yang
dilakukan oleh
orang-orang
percaya. Kata
memadamkan
berarti "matikan,
mengecilkan." Itu
berhubungan dengan
keterangan Firman
Tuhan mengenai Roh
Kudus sebagai api.
Pada waktu kita
memadamkan Roh,
kita memadamkan
api.
Gambaran api
memberikan dua
aspek:
Pertama, api itu
padam apabila
persediaan bahan
bakar habis. Jika kita
tidak mengobarkan
jiwa kita, jika kita
tidak mengobarkan
jalan kasih karunia,
jika kita gagal
berdoa, bersaksi,
atau membaca
Firman Allah, api Roh
Kudus akan
terbendung. Hal-hal
itu adalah saluran
yang dipakai untuk
memberi kita bahan
bakar supaya api itu
tetap menyala. Dan
Roh Kudus ingin agar
kita menggunakan
pemberian-
pemberiaan itu agar
api-Nya tetap
menyala dalam hidup
kita.
Kedua, kita dapat
mematikannya
dengan cara
menyiraminya
dengan air, atau
menutupnya dengan
selimut atau dengan
tanah. Dengan cara
yang sama, dosa
yang disengaja
memadamkan Roh.
Pernahkah Anda di
dalam bentuk apa
saja mendukakan
Roh, atau
memadamkan Roh,
atau memadamkan
Roh dalam hidup
Anda? Jika itu adalah
persoalannya,
sadarlah bahwa
sekarang inilah
waktunya untuk
mengakui semua
kepada Allah, dan
bertobat daripada
dosa-dosa itu.
Kemudian
berjalanlah setiap
hari di dalam
kepenuhan Roh, dan
peka terhadap
pimpinan-Nya dan
kuasa-Nya di dalam
hidup Anda.
Sumber: Buku: Roh
Kudus hal 194-207

Apakah Kita Semua Harus Berkata-kata Dengan Bahasa Roh?

Penulis : Manfred T.
Brauch
"Aku suka, supaya
kamu semua
berkata-kata dengan
bahasa roh, tetapi
lebih daripada itu,
supaya kamu
bernubuat." 1
Korintus 14:5 Ucapan
Paulus dalam 1
Korintus 14:5 dan
pembahasan
sekitarnya mengenai
kehadiran dan fungsi
karunia-karunia
rohani dalam diri
orang-orang beriman
telah menimbulkan
banyak pertanyaan:
Apa kedudukan
"bahasa roh" di
dalam jemaat?
Apakah orang-orang
yang telah
mendapatkan
karunia rohani ini
menjadi orang
Kristen yang lebih
saleh, lebih terbuka
terhadap pekerjaan
Roh Kudus,
dibandingkan
mereka yang belum
mendapatkannya?
Apakah Paulus
bermaksud
mengatakan bahwa
semua orang Kristen
harus mendapatkan
karunia ini? Atau
sebaliknya semua
orang harus
berpartisipasi dalam
pekerjaan nubuat,
dan memberikan
tempat yang tidak
penting untuk
"berkata-kata
dengan bahasa roh"?
Beberapa orang
Kristen, atas dasar
teks ini dan teks-
teks lainnya, merasa
lebih tinggi, atau
lebih lengkap, karena
mereka memiliki
karunia bahasa roh,
dan bersama-sama
Paulus berharap
bahwa saudara-
saudara seiman
mereka dapat
memiliki pengalaman
yang sama ini.
Orang-orang Kristen
lainnya, atas dasar
teks yang sama,
menganggap
glossolalia ini (dari
bahasa Yunani
glossai "lidah")
perwujudan dari
iman yang primitif
dan tidak dewasa,
dan menganggap
ketiadaan karunia
atau pengalaman ini
sebagai tanda
kedewasaan yang
lebih besar. Yang
lainnya lagi, melihat
iman yang
bersemangat dan
antusias, dan juga
kesaksian dari
beberapa orang yang
memiliki karunia
berkata-kata dengan
bahasa roh, merasa
bahwa mereka tidak
berjalan seiring
dengan Roh Allah dan
sungguh-sungguh
merindukan atau
mencari pengalaman
Roh yang akan
menimbulkan
semangat pada iman
yang statis.
Masalah di atas,
yang sedikit banyak
sudah ada di
sebagian gereja
sepanjang sejarah
gereja telah muncul
kembali akhir-akhir
ini dalam sebuah
bentuk yang dikenal
dengan nama
gerakan kharismatik
(dari kata bahasa
Yunani charisma
"karunia"). Karena
gerakan ini telah
masuk ke dalam
semua golongan
gereja dan
mempengaruhi
orang-orang beriman
dalam hampir semua
tradisi Kristen, kita
sangat perlu
mengerti ucapan
Paulus yang sulit ini.
Sebuah definisi
singkat tentang
istilah-istilah yang
digunakan oleh
Paulus akan
bermanfaat. Dua
aktivitas yang
dipertentangkan
dalam ucapan sulit
ini adalah "berkata-
kata dengan bahasa
roh" dan
"bernubuat."
Fenomena "bahasa
roh" yang
dinyatakan oleh
Paulus sebagai
karunia (bahasa
Yunani, karisma) dari
Roh Kudus ini (1
Korintus 12-14)
harus dibedakan
secara jelas dari
fenomena yang
menyertai
pencurahan Roh
Kudus pada hari
Pentakosta (Kisah
Para Rasul 2:1-12).
Dalam Kisah Para
Rasul, Roh Kudus
memampukan
murid-murid Yesus
untuk "berkata-kata
dalam bahasa-
bahasa lain" (glossai
Kisah Para Rasul 2:4,
11) sedemikian rupa
sehingga para
pendengarnya, yang
terdiri dari orang-
orang dari berbagai
kelompok bahasa di
seluruh daerah
Yunani Roma,
mendengar mereka
berbicara mengenai
kabar baik tentang
Yesus (Kisah Para
Rasul 2:6, 8) dalam
bahasanya masing-
masing (bahasa
Yunani, dialekton
"dialek/bahasa"). Di
sini jelas terjadi
pernyataan dan
pendengaran yang
penuh keajaiban di
mana artinya yang
jelas terungkap dan
diterima pendengar.
Penafsiran Paulus
tentang fenomena
ini juga
menunjukkan bahwa
hal tersebut harus
dimengerti sebagai
pernyataan yang
jelas tentang
kebesaran Allah. Ia
mengutip nubuat
dalam Yoel 2:28-32,
di mana pencurahan
Roh Kudus itu
menimbulkan nubuat
(Kisah Para Rasul
2:17-18).
Di Korintus, di pihak
lain, fenomena
bahasa roh yang
dirisaukan Paulus
diidentifikasi sebagai
"bahasa yang tidak
dimengerti": tidak
seorangpun
mengerti hal ini (1
Korintus 14:2);
bahasa itu perlu
ditafsirkan jika ingin
membangun jemaat
(14:5); bahasa ini
dikontraskan dengan
"kata-kata yang
jelas" (14:9, 19) dan
"banyak macam
bahasa...tidak ada
satu pun di
antaranya yang
mempunyai bunyi
yang tidak
berarti" (14:10);
bahasa ini tidak
mencakup akal budi
(14:14); orang lain
tidak tahu apa yang
dikatakan (14:16).
Paulus
membandingkan
karunia "bahasa roh"
ini dengan karunia
"nubuat". Kita harus
berhati-hati sejak
awal untuk tidak
memberikan
gagasan yang
terbatas pada kata
nubuat. Kata ini tidak
hanya berarti
"meramalkan masa
yang akan datang."
Nubuat kadang-
kadang mencakup
unsur peramalan ini
(baik di antara nabi-
nabi Perjanjian Lama
maupun nabi-nabi
Kristen), tetapi aspek
ini tidak eksklusif
ataupun utama.
Nabi-nabi Israel
terutama
menunjukkan Firman
Allah pada
kenyataan yang
sekarang. Ini juga
merupakan aspek
utama dari
pemberitaan Injil
dalam kekristenan
awal yang mula-
mula. Dalam Kisah
Para Rasul, nubuat
Yoel (bahwa "anak-
anakmu laki-laki dan
perempuan akan
bernubuat" Kisah
Para Rasul 2:17-18)
terpenuhi dalam
pernyataan tentang
apa yang telah
dilakukan Allah
dalam Yesus Kristus
(Kisah Para Rasul
2:22-36).
Dalam 1 Korintus 11,
berdoa dan
bernubuat
dibicarakan sebagai
dua aspek khas dari
orang Kristen dalam
ibadah jemaat. Doa
ditujukan kepada
Tuhan, sedangkan
nubuat berarti
menunjukkan Firman
Tuhan kepada
jemaat yang
beribadah. Dalam 1
Korintus 14:19-33,
aktivitas nabi-nabi
Kristen diartikan
menyampaikan isi
wahyu ilahi kepada
jemaat demi
pengajaran dan
dorongan. Tujuan
perkataan nabi ini
sangat penting daam
kontras antara
nubuat dengan
berkata-kata dalam
bahasa roh, yaitu
untuk membangun,
menasihati, dan
menghibur (1
Korintus 14:3).
Kita dapat meringkas
perbedaan di atas
sebagai berikut:
Paulus memahami
"bahasa roh"
sebagai ucapan yang
bersemangat dan
penuh gairah, tetapi
tidak jelas tanpa
penafsiran.
Tempatnya yang asli
dan sesuai adalah
dalam doa (1
Korintus 14:2, 16). Ia
memahami "nubuat"
sebagai pernyataan
wahyu yang
bersemangat
(mungkin mencakup
Injil, yaitu tindakan
Allah di dalam
Kristus, dan
pengungkapan yang
lebih jauh dari tujuan
Allah berdasarkan
kejadian itu), yang
disampaikan pada
gereja dalam bentuk
perkataan yang jelas
untuk
pertumbuhannya
yang terus menerus.
Dengan latar
belakang dan definisi
ini kita sekarang siap
untuk mengikuti
argumentasi Paulus
tentang ucapan yang
sulit ini.
Konteks yang lebih
luas terdapat
sebelum bab 12-14,
di mana Paulus
membicarakan
masalah-masalah
dalam kehidupan
masyarakat gereja,
khususnya dalam
konteks ibadah.
Prinsip yang utama
dan pokok untuk
tindakan Kristen
adalah prinsip
kemajuan rohani.
Semua kehidupan
dan tindakan Kristen
seharusnya diatur
oleh pertanyaan:
Apakah ini
bermanfaat bagi
orang lain? Apakah
hal ini menimbulkan
keselamatan dan/
atau pertumbuhan
iman mereka?
Apakah ini baik untuk
mereka? (1 Korintus
8:1, 9, 13, 9:12,
19-22; 10:23-24,
31-33; 11:21, 33).
Prinsip ini terus
berlanjut sebagai
lintasan pedoman
dalam pembahasan
Paulus tentang
kedudukan dan
fungsi karunia rohani
dalam 1 Korintus
12-14. Fokus dari
pembahasan
tersebut adalah
manfaat relatif dari
"bahasa roh" dan
"nubuat" (bab 14).
Tetapi Paulus
menggunakan
"nubuat" untuk
membahas apa yang
nampaknya
merupakan masalah
inti di Korintus: sikap
meninggikan karunia
berkata-kata dengan
bahasa roh
sedemikian rupa
sehingga karunia-
karunia lainnya dan
juga orang-orang
yang memiliki
karunia itu
diremehkan. Orang-
orang yang
menggunakan
bahasa roh jelas
melihat karunia ini
sebagai tanda
kerohanian yang
lebih tinggi.
Pandangan semacam
ini biasanya muncul
secara alamiah di
antara sekelompok
orang beriman di
Korintus yang
merasa yakin bahwa
mereka telah
dibebaskan dari
semua hubungan
tanggung jawab dan
masalah etika
praktis (Lihat
pembahasan tentang
"orang-orang yang
tinggi rohani" di
Korintus dalam bab
15-17 di atas. Dalam
ibadah, orang-orang
yang tinggi rohani ini
merasa bangga
dalam fenomena
wahyu sebagai
pengesahan terakhir
bahwa mereka
bebas dari eksistensi
yang terikat pada
bumi, termasuk
kata-kata yang
rasional dan jelas.
Pertanyaan Paulus
kepada mereka
dalam hal ini, seperti
juga pertanyaan
yang lebih awal
sehubungan dengan
masalah lain, adalah:
Bagaimana peranan
karunia ini untuk
keselamatan atau
untuk membangun
orang lainnya, dan
bukan hanya diri
sendiri? (1 Korintus
14:4). Dasar untuk
mengatasi masalah
ini dijelaskan dengan
teliti dalam bab
12-13. Singkatnya,
pemikiran Paulus
berkembang sebagai
berikut: Ada
bermacam-macam
karunia untuk orang
beriman, tetapi
semuanya itu
berasal dari Roh Allah
(1 Korintus 12:4-6).
Implikasinya adalah
tidak seorang pun
memiliki alasan
untuk merasa
bangga! Perwujudan
dari Roh yang satu ini
dalam bermacam-
macam karunia itu
adalah demi
kepentingan
bersama (1 Korintus
12:7). Jadi,
dimilikinya karunia
khusus itu bukanlah
demi keuntungan
pribadi seseorang.
Rohlah yang
menentukan
bagaimana karunia
itu dibagikan (1
Korintus 12:11).
Karena itu, pemilik
dari satu karunia
tertentu tidak
mempunyai alasan
untuk merasa lebih
disukai secara
khusus atau dalam
pengertian tertentu
lebih tinggi daripada
seseorang yang
tidak memiliki
karunia yang sama.
Rangkaian pemikiran
ini kemudian
ditunjang oleh
gambaran jemaat
sebagai tubuh
Kristus, yang
dibandingkan dengan
anggota tubuh
manusia yang hidup
(1 Korintus 12:12-27).
Tujuannya yang
utama adalah untuk
menyatakan bahwa
walaupun ada
bermacam-macam
orang dan karunia
dalam gereja, tidak
boleh ada
perpecahan; masing-
masing bagian harus
memperhatikan
bagian yang lainnya
(1 Korintus 12:25).
Setelah menekankan
penting dan
ab412nya semua
anggota tubuh, dan
juga karunianya
yang bermacam-
macam, Paulus
kemudian
melanjutkan dengan
menunjukkan bahwa
sehubungan dengan
prinsip-prinsip yang
membimbing
kehidupan dan
tindakan Kristen
yaitu agar orang-
orang lain dapat
diselamatkan dan
dibangun beberapa
panggilan dan
karunia lebih utama,
lebih mendasar dari
yang lain, dan
memberikan
sumbangan yang
lebih langsung dan
besar terhadap
tujuan itu. Walaupun
Paulus memulai
daftar panggilan
karunia itu dengan
cara menyebutkan
satu demi satu
("pertama rasul,
kedua nabi, ketiga
guru" 1 Korintus
14:28), ia tidak
melanjutkan
penyebutan itu pada
daftar karunia yang
tersisa. Pelayanan
rangkap tiga dari
kata itu yaitu
kesaksian Rasul yang
mendasar bagi Injil,
pemberitaan Injil
nabi pada gereja,
dan pengajaran
tentang arti dan
implikasi praktis dari
Injil jelas merupakan
yang utama,
sedangkan aktivitas-
aktivitas lainnya
yang ditandai oleh
karunia-karunia itu
(1 Korintus 14:28)
bersifat tergantung
dan sekunder
terhadap pelayanan
tersebut.
Penyebutan bahasa
roh di urutan
terakhir tidak harus
berarti bahwa
karunia inilah yang
"paling kecil"
berdasarkan urutan
hirarkisnya (karena
kelima karunia itu
tidak diberi nomor).
Lebih mungkin
Paulus
menyebutkannya
paling akhir karena
bagi jemaat yang
antusias di Korintus
kata ini terletak di
paling atas. Tetapi,
sudah jelas bahwa
"bahasa roh" ini
termasuk ke dalam
sekelompok karunia
yang satu tingkat
lebih rendah
daripada pelayanan
nubuat. Hal ini
ditegaskan oleh
kalimat penutup
Paulus dalam
Korintus 12:31, "Jadi
berusahalah untuk
memperoleh
karunia-karunia
yang utama." Dapat
diduga dari
lanjutannya dalam
bab 14 bahwa
pemberitaan nabi
(khotbah) dan
pengajaran adalah
"karunia-karunia
yang utama" itu.
Desakan untuk
memperoleh
karunia-karunia
yang utama diikuti
oleh panggilan
menuju daya tarik
yang lebih besar,
"Dan aku
menunjukkan
kepadamu jalan
yang lebih utama
lagi" (1 Korintus
12:31 "jalan yang
lebih baik lagi,"
Alkitab versi RSV).
Yang lebih baik lagi
daripada berusaha
memperoleh
karunia-karunia
yang lebih utama,
menurut Paulus,
adalah mengikuti
jalan kasih (1
Korintus
13:1).Karena, seperti
ditunjukkannya
dengan sangat
mengesankan di bab
13, karunia yang
kecil maupun besar
suatu hari akan
lenyap. Tetapi kasih
abadi. Paulus
mungkin
mengungkapkan
panggilan yang luar
biasa terhadap kasih
ini karena ia
mengetahui bahwa
kasih itu secara
murni ditujukan
kepada orang lain
dan akan menjadi
kekuatan yang
memberi semangat
untuk mencari
karunia-karunia
yang membangun
orang lain. Karena itu
"kejarlah kasih itu
dan usahakanlah
dirimu memperoleh
karunia-karunia Roh,
terutama karunia
untuk bernubuat" (1
Korintus 14:1).
Sekarang kita sudah
siap untuk
membahas secara
khusus hakikat,
fungsi, dan manfaat
relatif dari bahasa
roh dan nubuat (di
dalam ucapan yang
sulit itu). "Bahasa
roh" adalah bahasa
hati, yang ditujukan
kepada Allah (1
Korintus 14:2).
"Nubuat" adalah
kata-kata Allah yang
ditujukan kepada
manusia untuk
menasihati dan
menghibur (1
Korintus 14:3).
"Bahasa roh" pada
pokoknya
merupakan masalah
pribadi; bahasa roh
ini membangun diri
sendiri. "Nubuat"
merupakan masalah
umum, nubuat ini
membangun jemaat
(1 Korintus 14:4).
Paulus menegaskan
perlunya dimensi
pribadi dan juga
dimensi umum dari
karunia-karunia
yang berlawanan
tersebut ketika ia
mengungkapkan
harapannya agar
mereka semua
memiliki karunia
bahasa roh, dan
kemudian segera
melanjutkan
harapan itu dengan
harapa yang lebih
besar, "tetapi lebih
daripada itu, supaya
kamu bernubuat" (1
Korintus 14:5).
Pengalaman pribadi
yang
menggairahkan,
khususnya dalam
keakraban hubungan
doa seseorang
dengan Allah, tidak
seharusnya ditolak
("Janganlah
melarang orang yang
berkata-kata dengan
bahasa roh" 1
Korintus 14:39).
Paulus mengetahui
nilainya dari
pengalaman pribadi
(1 Korintus 14:18).
Dalam konteks
ibadah jemaat
sekalipun, bahasa
roh ini bisa
bermanfaat jika
dijelaskan melalui
penafsiran (1
Korintus 14:5)
sehingga orang-
orang lain dapat
"dibangun" (1
Korintus 14:16-17).
Karena "bahasa roh"
itu dikenal sebagai
karunia Roh dan
diberikan oleh Roh
Allah, Paulus dapat
mengatakan, "Aku
suka, supaya kamu
semua berkata-kata
dengan bahasa roh."
Ini akan merupakan
bukti bahwa Roh
bekerja di dalam diri
mereka. Walaupun
demikian, prinsip
pelaksananya (yaitu
demi kebaikan orang
lain) membawanya
tanpa syarat kepada
pilihan terhadap
pemberitaan nubuat,
"Tetapi dalam
pertemuan jemaat
aku lebih suka
mengucapkan lima
kata yang dapat
dimengerti untuk
mengajar orang lain
juga, daripada
beribu-ribu kata
dengan bahasa
roh" (1 Korintus
14:19).
Analisa ini membawa
kita pada ringkasan
kesimpulan sebagai
berikut: Tidak
satupun karunia Roh
bersifat mutlak;
hanya kasih yang
mutlak. Karena itu,
memiliki atau
menggunakan
karunia yang
manapun bukan
merupakan tanda
kedewasaan rohani.
Seseorang yang
beriman harus
terbuka terhadap
karunia Roh dan jika
mereka
menerimanya,
mereka harus
menggunakannya
dengan rasa syukur
dan rendah hati.
Setiap pencarian
karunia tertentu
secara sungguh-
sungguh harus
dipimpin oleh
keinginan untuk
melibatkan diri
dalam membangun
jemaat sehingga
seluruh umat Allah
benar-benar dapat
menjadi alternatif
ilahi bagi
masyarakat manusia
yang sudah rusak.
Children of Light -
Serving with LOVE
through FAITH
Apapun juga yang
kamu perbuat,
perbuatlah dengan
segenap hatimu
seperti untuk Tuhan
dan bukan untuk
manusia Kol 3:23
Karena bagiku hidup
adalah Kristus & mati
adalah keuntungan
Fil 1:21
Sumber: Ucapan
Paulus Yang Sulit

Mau Kesorga atau Ke Neraka Selamanya?

Apa yang terjadi jika
seorang yang
beriman meninggal
dan apa yang terjadi
bila seorang yang
tidak beriman
meninggal ? Alkitab
cukup jelas tentang
hal ini. Di 2 Korintus
5:8 kita baca: "Tetapi
hati kami tabah, dan
terlebih suka kami
beralih dari tubuh ini
untuk menetap pada
Tuhan."
Di Filipi pasal 1 kita
juga menemukan
bahasa yang sama.
Ketika kita
diselamatkan, kita
diberikan
kebangkitan roh
yang baru dimana
kita juga
mendapatkan hidup
yang kekal.
Kematian jasmani
adalah pemisahan
roh dari tubuh, jadi
roh kita
meninggalkan tubuh
kita yang akan
dimasukkan ke
dalam kubur, dan roh
kita akan pergi untuk
hidup dan
memerintah
bersama dengan
Kristus di sorga. Dan
di 1 Tesalonika 3:13
kita baca: "Kiranya
Dia menguatkan
hatimu, supaya tak
bercacat dan kudus,
di hadapan Allah dan
Bapa kita pada
waktu kedatangan
Yesus, Tuhan kita,
dengan semua orang
kudus-Nya."
Dan di 1 Tesalonika
4:13-15 kita baca:
"Selanjutnya kami
tidak mau, saudara-
saudara, bahwa
kamu tidak
mengetahui tentang
mereka yang
meninggal, supaya
kamu jangan
berdukacita seperti
orang-orang lain
yang tidak
mempunyai
pengharapan. Karena
jikalau kita percaya,
bahwa Yesus telah
mati dan telah
bangkit, maka kita
percaya juga bahwa
mereka yang telah
meninggal dalam
Yesus akan
dikumpulkan Allah
bersama-sama
dengan Dia. Ini kami
katakan kepadamu
dengan firman
Tuhan: kita yang
hidup, yang masih
tinggal sampai
kedatangan Tuhan,
sekali-kali tidak akan
mendahului mereka
yang telah
meninggal."
Pada hari terakhir,
Kristus akan datang
dengan semua orang
kudus-Nya, yaitu
mereka yang sudah
mati dan
diselamatkan, yang
dalam keadaan roh
tetap hidup bersama
dengan-Nya di sorga.
Dan pada hari
terakhir, tubuh
mereka semua akan
dibangkitkan untuk
mendapatkan tubuh
yang baru yang
sudah dipermuliakan
dan tidak dapat
binasa, dan mereka
akan kembali
menjadi satu
kepribadian yang
utuh lagi.
Di pihak lain, ketika
seorang yang belum
diselamatkan
meninggal, rohnya
tidak menerima
kehidupan yang
kekal, jadi dia tidak
dapat masuk ke
dalam sorga. Rohnya
akan dipisahkan dari
tubuhnya, tubuhnya
akan ditaruh didalam
kuburan, persis
seperti tubuh orang
yang beriman
dimasukkan dalam
kuburan, tetapi roh
orang yang tidak
beriman akan pergi
ke suatu "tempat
sunyi" (Mazmur
115:17). Dan disitu
mereka "tidak
mempunyai
kesadaran apa-
apa" (Wahyu 20:5)
sampai pada hari
pengadilan terakhir
ketika mereka akan
dibangkitkan dan
berdiri sebagai
kepribadian yang
utuh di hadapan
takhta pengadilan
Tuhan. Di Yohanes
5:28-29 Tuhan
berkata: "Janganlah
kamu heran akan hal
itu, sebab saatnya
akan tiba, bahwa
semua orang yang di
dalam kuburan akan
mendengar suara-
Nya, dan mereka
yang telah berbuat
baik akan keluar dan
bangkit untuk hidup
yang kekal, tetapi
mereka yang telah
berbuat jahat akan
bangkit untuk
dihukum."
Mereka yang telah
meninggal dunia dan
tidak diselamatkan
akan dibangkitkan
untuk diadili dan
mereka akan diadili
bersama-sama
dengan semua orang
yang tidak
diselamatkan yang
masih hidup di bumi
ketika Kristus datang
kembali untuk yang
kedua kalinya.
Mereka yang diadili
sudah pasti akan
ditemukan bersalah
atas dosa-dosa
mereka dan
kemudian hukuman
dijatuhkan yaitu
dibuang ke neraka
untuk selama-
lamanya.
Sedangkan untuk
sekarang ini, mereka
yang sudah mati tapi
tidak diselamatkan
tidak dapat langsung
pergi ke neraka
sebab mereka belum
resmi diadili, dan
mereka akan diadili
pada hari terakhir.
Hal ini menunjukkan
bahwa kita semua
sungguh-sungguh
memerlukan
Juruselamat untuk
menebus dosa-dosa
kita sebab pilihannya
adalah amat
mengerikan untuk
direnungkan.
Saya mempunyai
pertanyaan, anda
berkata kalau
seorang yang belum
diselamatkan mati
dia akan pergi ke
tempat yang sunyi.
Tetapi pendeta di
gereja saya berkata
bahwa orang yang
belum diselamatkan
akan disiksa sampai
hari terakhir, dan
Wahyu 20:13-14
mendukung hal ini.
Tidak, itu tidak bisa
terjadi seperti itu.
Orang-orang yang
tidak diselamatkan
tidak bisa dijatuhi
hukuman sebelum
mereka diadili, jadi
harus ada pengadilan
terlebih dahulu dan
pengadilan itu akan
dilangsungkan pada
hari terakhir. Tuhan
tidak bisa
memasukkan
seseorang ke dalam
neraka sebelum
mereka diadili dan
ditemukan bersalah.
Mari kita lihat Wahyu
20:13-14, tetapi
sebelumnya mari
kita baca Wahyu
20:5:
"Tetapi orang-orang
mati yang lain [yaitu
orang-orang yang
tidak diselamatkan]
tidak bangkit [yaitu
mereka tidak
mempunyai
kesadaran apa-apa]
sebelum berakhir
masa yang seribu
tahun itu................"
Hal ini terjadi sampai
habisnya masa
"seribu tahun"
secara rohani, dan ini
adalah
"kesempurnaan
masa" (completeness)
yang telah
ditetapkan oleh
Tuhan untuk mereka.
Kemudian di ayat 13
kita baca:
"Maka laut
menyerahkan orang-
orang mati yang ada
di dalamnya [ini
berarti
bagaimanapun
mereka mati dan
dikubur sewaktu
mereka meninggal
dunia, Tuhan mampu
untuk
membangkitkan
mereka pada hari
terakhir], dan maut
dan kerajaan maut
menyerahkan orang-
orang mati yang ada
di
dalamnya,..............."
Sekarang anda lihat
neraka adalah
berarti "berada di
bawah murka
Tuhan", dan
sebetulnya setiap
orang yang belum
diselamatkan
mereka masih
berada dibawah
murka Tuhan.
Mereka belum
dibuang ke dalam
neraka karena
mereka harus diadili
terlebih dahulu.
Semua orang yang
secara fisik hidup di
bumi dan belum
diselamatkan secara
spiritual mereka juga
berada di neraka.
Ungkapan "maut"
menunjuk kepada
dunia orang mati dan
ungkapan "kerajaan
maut" menunjuk
kepada dunia orang
yang masih hidup
tetapi belum
diselamatkan. Itulah
mengapa kita baca di
ayat 11 dan 12:
"ada suatu takhta
putih yang besar,
dan orang-orang
mati, besar dan kecil,
berdiri di depan
takhta itu. Lalu
dibuka semua kitab."
Jadi mereka yang
tidak diselamatkan
akan berdiri di depan
tahta pengadilan itu
pada hari terakhir,
mereka sudah pasti
akan ditemukan
bersalah dan
kemudian dibuang ke
dalam lautan api,
yaitu dihukum untuk
selama-lamanya,
apinya tidak akan
padam dan asapnya
akan membubung
terus untuk selama-
lamanya (Wahyu
14:11, Yesaya 66:24).
Bisakah anda
memberitahukan
kepada saya dimana
dikatakan bahwa
orang mati yang
belum diselamatkan
pergi ke tempat
sunyi?
Ya, ini ada tertulis di
dalam kitab Mazmur.
Sebelumnya kita
sudah lihat di Wahyu
20:5, bahwa "orang-
orang mati yang
belum diselamatkan
tidak bangkit", atau
mereka tidak
mempunyai
kesadaran apa-apa
sampai pada hari
terakhir, dan
kemudian di Mazmur
115:17, kita baca:
"Bukan orang-orang
mati akan memuji-
muji TUHAN, dan
bukan [tidak juga -
KJV] semua orang
yang turun ke
tempat sunyi,"
Orang mati yang
dimaksud di bagian
yang pertama adalah
orang-orang yang
"mati secara rohani"
tetapi masih hidup
didunia ini,
sedangkan bagian
yang kedua
menyatakan bila
orang yang belum
diselamatkan
meninggal dunia, roh
mereka akan pergi
ke tempat "tempat
sunyi". Kemudian
perhatikan di ayat
berikutnya kita baca
di ayat 18:
"tetapi kita, kita
akan memuji TUHAN,
sekarang ini dan
sampai selama-
lamanya. Haleluya!"
Anda lihat kalau kita
sudah diselamatkan,
kita menerima
"kebangkitan jiwa
yang baru", dimana
bersamaan dengan
itu kita juga
diberikan hidup yang
kekal. Jadi ketika
kita tubuh fisik kita
mati, hidup kita tidak
akan berakhir,
karena kita masih
akan mempunyai
kesadaran (didalam
roh). Kita akan terus
memuji Tuhan
karena para
malaikat akan
menjemput jiwa kita
untuk dibawa masuk
ke dalam surga,
dimana kita akan
hidup dan
memerintah
bersama dengan
Kristus sampai pada
hari terakhir. Dan di
hari terakhir nanti
kita baru akan
menerima
kebangkitan tubuh
yang baru, yaitu,
tubuh yang sudah
dimuliakan dan tidak
dapat binasa.

Pandangan Alkitab Terhadap Allah tritunggal

Pandangan Alkitab
terhadap Allah
Tritunggal
Penulis : Mangapul
Sagala
Hal pertama yang
perlu kita tegaskan
adalah bahwa kita
tidak menemukan
istilah Allah
Tritunggal di dalam
Alkitab.
Karena itu, ada
sebagian orang yang
menolak pandangan
Allah Tritunggal
karena menurut
mereka istilah itu
tidak pernah
ditemukan di dalam
Alkitab, baik di dalam
Perjanjian Lama
maupun Perjanjian
Baru. Selanjutnya,
mereka itu
menyatakan bahwa
ajaran Allah
Tritunggal hanya
merupakan ciptaan
dari bapak-bapak
Gereja mula-mula.
Benarkah demikian?
Jawabnya adalah,
memang istilah Allah
Tritunggal tidak
ditemukan, baik di
dalam Perjanjian
Lama maupun
Perjanjian Baru. Jika
kita melihat
perkembangan
doktrin Tritunggal
tersebut, memang
hal itu tidak terlihat
secara jelas
dinyatakan di dalam
Perjanjian Lama.
Umat Allah di dalam
Perjanjian Lama
malah terus menerus
diperingatkan bahwa
Allah itu esa (Ulangan
6:4). Hukum Taurat
pertama dari sepuluh
Hukum Taurat
menegaskan :
Jangan ada padamu
allah lain di
hadapanKu (Kel.20:3).
Itulah sebabnya
umat Allah di dalam
Perjanjian Lama
hanya beribadah
kepada YHWH.
Namun demikian,
kehadiran Yesus
Kristus dan Roh
Kudus di Perjanjian
Baru membuat
pemahamaman akan
keesaan Allah
tersebut perlu
dipikirkan ulang.
Siapakah Yesus
Kristus? Siapakah
Roh Kudus? Apakah
Yesus manusia biasa,
atau sekedar
seorang nabi seperti
nabi lainnya di dalam
Perjanjian Lama?
Penulis-penulis
Perjanjian Baru
memberi pengajaran
bahwa Yesus dan
Roh Kudus adalah
pribadi Allah juga.
Sekalipun terjadi
pro-kontra di dalam
gereja mula-mula
tentang pribadi
Yesus, namun
akhirnya, pada tahun
325 hal itu dapat
diselesaikan melalui
sidang
"oikumene" (konsili)
pertama di Necea
bahwa Yesus adalah
Allah. Pengakuan
bahwa Yesua adalah
Allah diteguhkan
dalam konsili-konsili
selanjutnya, seperti
Konsili Efesus (431),
Chalcedon (451).
Demikian juga
keAllahan Roh Kudus
diteguhkan melalui
Konsili kedua di
Konstantinopel pada
tahun 381. Jika d
emikian halnya,
apakah Alkitab
mengajarkan adanya
tiga Allah? Tentu
saja tidak, sebab
sebagaimana kita
lihat pada Hukum
Taurat pertama,
Allah menegaskan
untuk tidak
menyembah Allah
lain di luar Dia.
Pengakuan kepada
Allah yang esa
merupakan
pengakuan mutlak
yang tidak dapat
ditawar-tawar
(Ulangan 6:4). Di
dalam Injil Perjanjian
Baru, kita juga
menemukan
penegasan akan
keesaan Allah
tersebut, baik oleh
Tuhan Yesus
(Yoh.10:30) maupun
oleh rasul-rasul
(1Tim.2:5). Dari
pengajaran Alkitab
tersebut, kita
melihat bahwa di
satu sisi Alkitab
menegaskan
keesaan Allah, tapi di
sisi lain, kita
menemukan adanya
kejamakan di dalam
keesaan tersebut.
Dari kenyataan
tersebut, bapak-
bapak Gereja
mencoba memahami
dan menjelaskannya.
Tentu saja,
sebagaimana kita
sebutkan di atas, ada
pemahaman yang
tidak sesuai dengan
pengajaran Alkitab,
seperti Sabellianisme
dan Arianisme dan
ada juga yang sesuai
dengan ajaran
Alkitab, sebagaimana
diajarkan oleh
Athanasius.
Apakah adanya sifat
kejamakan di dalam
Allah yang esa
tersebut hanya
ditemui di dalam
Perjanjian Baru?
Sebenarnya, jika kita
meneliti Perjanjian
Lama, kita juga
menemukan adanya
unsur kejamakan
tersebut. Kejamakan
tersebut dapat
ditemukan ketika
kita membaca
kalimat pertama
Perjanjian Lama.
Dalam Kej.1:1 kita
membaca: Pada
mulanya Allah
menciptakan langit
dan bumi. Di dalam
bahasa aslinya
(Ibrani) kalimat
tersebut berbunyi:
Be reshit bara Elohim
et ha shamayim ve
et ha aretz. Kata
Elohim menandakan
jamak (bandingkan
dengan Yes.6:2 di
mana banyak
mahluk surgawi
(serafim) melayani
Allah). Salah satu
oknum dari Allah
Tritunggal tersebut
segera disebut
secara eksplisit pada
ayat 2: Roh Allah
melayang-layang di
atas permukaan air.
Selanjutnya, kita
juga dapat
menemukan
kejamakan tersebut
dalam kisah
penciptaan manusia:
Baiklah KITA
menjadikan manusia
menurut gambar dan
rupa kita ( (Kej.1:26).
Lalu bagaimana
dengan Perjanjian
Baru? Ketiga oknum
Tritunggal
dinyatakan dengan
sangat jelas.
Misalnya, dalam
kisah pembaptisan
Yesus (Mark.1:9-11),
kisah pengutusan
pada saat Yesus
memberikan amanat
agung: Mat.28:19,
pada saat khotbah
perpisahan
(Yoh.16:4-7), juga
dalam memberi
berkat (2 Kor.13:13).

Bagaimana kita Mengetahui ALKITAB itu Benar?

Bagaimana Kita
Mengetahui Bahwa
Alkitab Itu Benar?
Bukti-Bukti External
Ada banyak bukti-
bukti external, yaitu
fakta-fakta diluar
Alkitab yang
memperlihatkan
bahwa Alkitab
adalah sumber
informasi yang dapat
dipercaya.
Bukti-Bukti Ilmiah
Belum ada bukti-
bukti ilmiah yang
dapat menyatakan
kesalahan
pernyataan-
pernyataan apapun
yang ada di dalam
Alkitab. Walaupun
ada banyak orang
yang mengatakan,
"Alkitab adalah
bukan buku ilmiah,
tetapi itu ditulis
untuk memberikan
pandangan
mengenai
keagamaan atau
kerohanian."
Walaupun begitu
seluruh isi Alkitab
adalah mutlak dapat
dipercaya dalam hal
ilmiah maupun
rohani.
Ketepatan catatan
dari benda-benda,
peristiwa-peristiwa,
orang-orang dan
tempat-tempat
didalam Alkitab
memperlihatkan
integritas Tuhan.
Tuhan telah
memberikan
pernyataan-
pernyataan yang
harus diterima
secara utuh dimana
hal ini
memperlihatkan
kemampuan Tuhan
untuk menjaga
ketepatan isi Alkitab
selama berabad-
abad. Kita tidak akan
bisa melampaui
batas kepercayaan
akan ketepatan
pernyataan-
pernyataan tentang
dunia ini seperti yang
tertulis didalam
Alkitab karena hal itu
menunjukkan bahwa
Tuhan-lah yang
mengarang Alkitab.
Bukti-bukti
Geography
Sementara Alkitab
tidak ditulis untuk
mengajarkan
prinsip-prinsip ilmu
alam akan tetapi
setiap topik yang
membicarakan
ciptaan Tuhan
didalam Alkitab
adalah sangat benar
dan akurat. Dalam
satu hal Alkitab
menyatakan secara
benar di Ayub 26:7
bahwa bumi
berbentuk bulat, dan
pernyataan ini ditulis
kira-kira 3000 tahun
sebelum Masehi.
Deskripsi yang tepat
mengenai bentuk
bumi ini begitu
berlawanan dengan
pendapat atau
kepercayaan
kebanyakan orang
yang hidup pada
masa itu dimana
mereka percaya
bahwa bumi ini
berbentuk datar. Dan
Yesaya 40:22 juga
menyatakan hal
yang sama bahwa
Tuhan bertakhta di
atas "bulatan bumi".
Pernyataan di
Yesaya 40:22 adalah
pararel dengan
pernyataan di Ayub
26:7 yang
menyatakan telah
menyebutkan
bentuk bumi dengan
benar, dan
kebenaran-
kebenaran seperti
itulah yang selalu
kita dapatkan dari
Alkitab. Lagipula
siapakah yang lebih
mengetahui daripada
sang Pencipta sendiri
tentang bagaimana
alam semesta ini
dibuat?
Bukti-bukti Arkeologi
Salinan yang tertua
dari puisi-puisi atau
karangan-karangan
Yunani adalah 800
sampai 1000 tahun
lebih baru daripada
tulisan yang aslinya.
Tapi, tidak ada
ilmuwan yang akan
menerima
pernyataan bahwa
tulisan-tulisan
Yunani ini telah
menyeleweng dari
tulisan yang aslinya
dan seharusnya
dibuang. Tetapi
salinan tertua dari
kitab-kitab
Perjanjian Lama
hanyalah 200 tahun
lebih baru dari
tulisan aslinya. Dan
salinan tertua dari
kitab-kitab
Perjanjian Baru
tertanggal 50 sampai
80 tahun setelah
tulisan aslinya. Dari
dasar informasi ini,
Alkitab seharusnya
dipercayai paling
tidak seperti tulisan-
tulisan Yunani
lainnya, yang sampai
sekarang masih
sangat dipercaya.
Penemuan-
penemuan arkeologi
banyak yang
memperkuat bukti
integritas dari
Alkitab yang
menyebabkan para
arkeolog yang
dulunya melecehkan
Alkitab menjadi
berbalik dari
menentang menjadi
percaya kepada
Alkitab. Selama
berabad-abad ada
banyak orang-orang
yang meragukan
kebenaran Alkitab
karena Alkitab
menyebutkan begitu
banyak nama
bangsa-bangsa kuno
yang telah lama
menghilang.
Contohnya di
Kejadian 15:20
Alkitab menyebutkan
tentang suku bangsa
Het. Dan ternyata
beberapa ratus
tahun yang lalu para
arkeolog
menemukan
reruntuhan sebuah
kota yang terletak di
Turki, yaitu disebelah
Utara dari tanah
Israel, yang ternyata
adalah reruntuhan
dari kota utama
bangsa Het.
Dalam kasih karunia
Tuhan, pada sekitar
tahun 1950
ditemukan gulungan-
gulungan kitab di
sebuah gua yang
bernama Qumran
didekat Laut Mati.
Hebatnya karena
kondisi gua yang
sangat-sangat
kering gulungan-
gulungan kitab ini
berada dalam taraf
yang baik dan tidak
mengalami
kehancuran, kitab-
kitab ini dapat
dibuka dan dibaca.
Penemuan yang
paling menakjubkan
adalah salinan dari
kitab Yesaya.
Menurut uji carbon
14, penanggalannya
adalah 100 tahun
sebelum Masehi, itu
adalah 1000 tahun
lebih awal daripada
salinan yang
dipergunakan
sebelumnya.
Selisihnya hanya
sekitar 600 tahun
dari teks yang
aslinya. Dan para ahli
menemukan kalau ini
adalah identik
dengan tulisan
Yahudi (Ibrani) yang
digunakan untuk
menterjemahkan
alkitab King James
yang diterbitkan
pada tahun 1611.
Jadi, gulungan-
gulungan kitab ini
menolong untuk
membuktikan fakta
bahwa kita
sesungguhnya
mempunyai Injil
sejati yang asli.
Bukti-bukti Sejarah
Alkitab juga
berbicara mengenai
kejadian-kejadian
jauh dari sebelum hal
itu terjadi. Nabi
Yesaya pernah
berbicara mengenai
seorang raja Persia
yang bernama
Koresh (Yesaya 45:1)
dimana dinubuatkan
bahwa dia-lah yang
akan membangun
kembali bangsa
Yehuda. Persia
adalah sebuah
kerajaan besar yang
terletak disekitar
negara Iran. Yesaya
menulis nubuat ini
pada masa
pemerintahan raja
Hizkia yang
meninggal pada
tahun 687 sebelum
Masehi. Dan Koresh
tidak mulai
memerintah sebagai
raja sampai tahun
600 sebelum Masehi,
ini adalah lebih dari
80 tahun setelah
nubuat itu ditulis.
Hanya Tuhan saja
yang dapat
mengetahui nama
dari raja Persia
sebelum dia naik ke
atas tahta.
Kemudian Alktiab
mempunyai banyak
nubuat-nubuat
mengenai Yesus
Kristus yang ditulis
1000 tahun sebelum
Dia dilahirkan. Hal ini
mungkin sedikit
tersembunyi yang
hanya terlihat bila
kita memperhatikan
setiap kata dengan
teliti, tetapi
sebetulnya setiap
kitab-kitab dalam
Perjanjian Lama
dengan jelas
menunjuk kepada
Yesus. Contohnya,
perhatikanlah
dengan sangat teliti
nubuat-nubuat yang
ditulis dalam Mazmur
22, Yesaya 53 dan
Mikha 5:2.
Melihat fakta-fakta
bersejarah ini, kita
dihadapkan hanya
kepada dua
kemungkinan.
Apakah Alkitab itu
dikarang oleh Dia
yang tidak
mempunyai batas
waktu, atau itu
hanyalah sebuah
lelucon yang ditulis
oleh seseorang
setelah kejadian itu
terjadi untuk
membuat Alkitab
kelihatan hebat.
Pilihan yang benar
adalah: Alkitab
merupakan satu-
satunya firman
Tuhan yang sejati.
Bukti Dari
Pengalaman Pribadi
Salah satu sumber
lain dari kebenaran
Alkitab adalah
pengalaman pribadi
dari mereka-mereka
yang sudah dirubah
hidupnya oleh
Alkitab. Ada
perubahan yang
besar dan nyata
didalam hidup orang-
orang yang percaya
kepada Kristus dan
berjalan menurut
firman-Nya, yaitu
Alkitab. Dalam kata
lain Alkitab sanggup
melakukan kepada
orang-orang yang
percaya janji-janji
yang terkandung
didalamnya.
Alkitab menjanjikan
pembebasan dari
hari pengadilan
terakhir dan
memberikan
kepastian tidak akan
adanya hukuman
bagi orang-orang
yang percaya
(Yohanes 5:24, Roma
8:1,16, 1 Yohanes
4:18). Alkitab
menjanjikan orang-
orang yang percaya
akan dibersihkan
secara rohani
(Mazmur 119:9,11,
Yohanes 15:3).
Alkitab menjanjikan
kebebasan dari
perbudakan dosa
dan kemenangan
total (Yohanes
8:34-36, Roma 6:18,
Kolose 3:1-2). Alkitab
memberikan arti dan
tujuan dari hidup ini
(1 Petrus 2:9).
Semua hal-hal ini
adalah bagian dari
pengalaman pribadi
orang-orang yang
percaya. Orang-
orang yang percaya
mengalami hidup
yang baru yang
menjadi bukti bahwa
mereka tidak lagi
dipenuhi dengan
kepahitan atau
penyesalan tentang
masa lalu mereka
ketika mereka
mengetahui
pengampunan Tuhan
(Ibrani 10:16-17).
Bahkan orang-orang
yang percaya berani
berkorban untuk
sesamanya manusia
karena mereka
mengetahui bahwa
mereka selalu dapat
bergantung kepada
Tuhan. Seseorang
yang percaya
kepada Alkitab
mempunyai
pengalaman rohani
pribadi yang
mengetahui dengan
pasti bahwa Alkitab
adalah bukan
sekedar tulisan-
tulisan puisi biasa,
tetapi itu adalah
firman Tuhan yang
bersaksi jauh
kedalam hati
mereka.
Kesaksian Alkitab
Alkitab sendiri
bersaksi bahwa ia
berasal dari Tuhan.
Misalnya di 2 Samuel
23:2 Daud, yang
menulis banyak
bagian dari kitab
Mazmur,
menyatakan bahwa
apa yang ditulisnya
berasal dari Tuhan.
Nabi Yeremia
menyatakan hal
yang sama (Yeremia
1:4), juga rasul
Paulus (1 Tesalonika
2:13). Dan di 2 Petrus
3:16 rasul Petrus
menyatakan bahwa
tulisan-tulisan Paulus
adalah bagian Kitab
Suci (scriptures).
Yesus sendiri
membuat banyak
pernyataan-
pernyataan bahwa
Alkitab mutlak dapat
dipercaya (Lukas
16:17, 24:44,
Yohanes 17:17). Dan
Yesus seringkali
menggunakan kisah-
kisah dari Perjanjian
Lama sebagai
peristiwa-peristiwa
yang nyata (Lukas
11:51, 17:26-33).
Kesatuan Alkitab
Alkitab terdiri dari 66
buku yang ditulis
selama periode
waktu lebih dari
1500 tahun, dari
zaman Musa (1400
Sebelum Masehi)
sampai zaman rasul
Yohanes (kira-kira
100 Masehi). Jumlah
penulisnya
sedikitnya ada 40
orang. Beberapa dari
pengarangnya hidup
terpisah 600 mil
jauhnya, dan
kebanyakan dari
mereka tidak
mengenal satu sama
lain. Tetapi kata-
kata yang tertulis di
dalam Alkitab
mempunyai pesan
yang sama, dan
mempunyai satu
kesatuan yang
sempurna secara
keseluruhan.
Satu-satunya alasan
kenapa bisa terjadi
seperti itu karena
Tuhan-lah yang
mengarang Alkitab.
Tuhan menggunakan
orang-orang ini
untuk menulis apa
yang Ia ingin tuliskan
kepada umat
manusia. Setiap kata
dan setiap huruf
didalam aslinya
(Ibrani untuk
Perjanjian Lama dan
Yunani untuk
Perjanjian Baru)
adalah tepat seperti
apa yang Tuhan ingin
sampaikan kepada
umat manusia. Para
penulis ini hidup dan
mati di zaman yang
berbeda-beda, tetapi
Tu493 yang sama
yang hidup selama-
lamanya yang
memberitahukan
kepada orang-orang
ini apa yang harus
mereka tulis. Untuk
alasan ini, kita bisa
selalu bisa
membandingkan
bagian-bagian yang
berbeda dari Alkitab
dan menemukan
bahwa mereka
adalah saling
melengkapi, saling
menjelaskan, dan
sangat konsisten
satu dengan yang
lainnya (1 Korintus
2:13). Kita dapat
membaca bagian
yang mana saja dari
Alkitab dan
menemukan firman
Tuhan disana.
Isi Alkitab
Hal yang paling
menakjubkan yang
dapat kita temukan
didalam Alkitab
adalah hal-hal yang
dibicarakan
didalamnya. Ada hal-
hal di dalam Alkitab
yang kita ketahui
bahwa hanya Tuhan
saja yang dapat
menulis pernyataan-
pernyataan yang
seperti itu. Misalnya
Alkitab menyatakan
di Yohanes 10:30
Yesus berkata
bahwa Ia adalah
Allah. Di Yohanes
20:28 seorang murid
menyatakan bahwa
Yesus adalah Allah.
Dan di Ibrani 1:8 Bapa
menyatakan bahwa
Yesus adalah Allah.
Kesimpulan terakhir
dari kesaksian-
kesaksian ini adalah
apakah Alkitab itu
gila atau itu adalah
benar-benar
berisikan firman-
firman Tuhan.
Contoh lain yang
penting adalah
bahwa Alkitab
membicarakan
masalah dosa (1
Yohanes 3:14). Tidak
ada orang lain yang
mempunyai
keberanian untuk
menuliskan
kenyataan-
kenyataan hidup
manusia seperti
yang tertulis didalam
Alkitab. Alkitab
memberikan
gambaran yang
menyeramkan dari
upah dosa. Alkitab
menyinggung kita,
dan kita tidak selalu
menyukai apa kita
baca didalamnya. Ini
menerangkan
mengapa kita sulit
untuk mempercayai
Alkitab.
Masalahnya adalah
bukan bukti
kebenarannya
melainkan hati kita.
Siapa yang ingin
mengetahui bahwa
sebenarnya dia
sedang berada
didalam bahaya,
seorang penjahat,
seorang pendosa
yang busuk dan
buruk? Siapa yang
akan bersuka-cita
sewaktu dia
diberitahu bahwa dia
sedang berjalan
menuju ke neraka,
dimana dia akan
menderita
selamanya dibawah
murka Tuhan? Siapa
yang menyambut
pengetahuan bahwa
tidak ada kebaikan
apapun sama sekali
didalam dirinya dan
sebenarnya dia
sedang berada
didalam
pemberontakan
melawan Tuhan
yang telah
menciptakannya?
Hanya Tuhan saja
yang dapat berkata
jujur kepada kita
karena hanya Dia
saja yang
mengetahui
kebenaran. Hanya
Tuhan yang mau
berterus-terang
kepada kita untuk
menyatakan kasih-
Nya. Kasih sejati
tidak dinyatakan
dengan kata-kata
yang mencoba untuk
membuat kita
merasa enak dan
nyaman dengan cara
menyanjung, tapi
meninggalkan kita
didalam kesusahan
karena mereka tidak
mempunyai
pengharapan yang
nyata. Kasih yang
sejati dinyatakan
dalam kebenaran,
karena itu adalah
satu-satunya hal
yang dapat
menyelamatkan kita.
Kejujuran Alkitab
tentang manusia
tidak menarik, tetapi
Alkitab berisi kata-
kata dari seorang
teman sejati. Tuhan
mengetahui bahwa
kita sedang berjalan
dipinggir jurang, dan
siap untuk jatuh ke
dalam neraka. Dia
memberitahu
persisnya apa yang
kita butuhkan untuk
menghindari
kemalangan ini.
Walaupun Alkitab
tidak akan tampil
sebagai salah satu
dari sepuluh buku
paling populer tahun
ini, tapi hanya Alkitab
yang dapat
memberikan janji-
janji seperti yang
Yesus katakan di
Matius 11:28-30:
"Marilah kepada-Ku,
semua yang letih
lesu dan berbeban
berat, Aku akan
memberi kelegaan
kepadamu. Pikullah
kuk yang Kupasang
dan belajarlah pada-
Ku, karena Aku
lemah lembut dan
rendah hati dan
jiwamu akan
mendapat
ketenangan. Sebab
kuk yang Kupasang
itu enak dan beban-
Kupun ringan."
Pesan-pesan Alkitab
Ada satu hal terakhir
yang harus kita
pertimbangkan
untuk menilai
kebenaran Alkitab.
Kebanyakan orang
percaya akan
adanya Tuhan. Tapi
jika Tuhan itu
memang Tuhan,
berarti Dia berkata-
kata dengan kuasa
yang mutlak dan kita
harus berserah
kepada perintah-
perintah-Nya.
Dengan kata lain, apa
yang kita pikirkan
tentang firman-Nya
dan bagaimana kita
bereaksi
terhadapnya,
mengambarkan
pikiran kita tentang
Tuhan. Kita tidak
dapat memisahkan
Tuhan dan Alkitab-
Nya. Kita tidak harus
percaya kepada
Alkitab, tetapi kita
akan menghadapi
akibatnya. Kalau
seseorang tidak
percaya kepada
Tuhan yang
membuat Alkitab
maka dia akan
bertingkah-laku
menurut jalan
pikirannya itu, dan
kepahitan serta
kehidupan yang
egois itulah yang
mereka akan tuai
tepat seperti yang
Alkitab katakan. Ini
adalah bukti yang
mengerikan. Dan
mereka juga harus
menghadap murka
Tuhan yang akan
mengejar mereka
sampai diluar batas
liang kubur dan
mereka akan
dibangkitkan
kembali untuk
dihakimi oleh sang
Hakim (Yesus Kristus
adalah firman Tuhan)
pada hari
penghakiman
terakhir seperti yang
dikatakan Alkitab
Mempertanyakan
tentang kebenaran
Alkitab adalah hal
yang baik, dan
Alkitab mampu untuk
melewati
pemeriksaan-
pemeriksaan yang
ada dan menjawab
semua pertanyaan
yang ada dan dapat
menghapuskan
keragu-raguan kita.
Yakobus 1:6
menyatakan bahwa
kita tidak perlu ragu-
ragu untuk meminta
kepada Tuhan
supaya kita
mempercayai
firman-Nya dan
meminta
kebijaksanaan untuk
mendapatkan hadiah
yang terbaik yang
bisa kita dapatkan
dari Alkitab. Tetapi,
untuk mempelajari
Alkitab adalah
sesuatu yang suci.
Hanya kalau kita
menghampiri Alkitab
dengan rendah hati
dan pikiran yang
terbuka untuk
kebenaran maka kita
akan bisa
menemukan
jawaban-jawaban
yang kita perlukan.
Dan kita dapat
berdoa, "Ya Tuhan
saya tidak tahu apa-
apa, ajarkanlah
saya."
"firman-Mu adalah
kebenaran."
(Yohanes 17:17)
Sumber:
www.familyradio.com