Selasa, 12 Oktober 2010

''YESUS KRISTUS PENIPU,ORANG GILA ATAU ALLAH. .?''

Esra Alfred Soru
Bagian pertama dan
kedua dari tulisan ini
telah membahas
keunikan Kristus, apa
yang membuat
Yesus sangat
berbeda dari yang
lain. Salah satu
keunikan-Nya adalah
bahwa Ia
menyatakan diri-Nya
sebagai Allah. Ya,
Yesus memang
menyatakan diri-Nya
sebagai Allah namun
pertanyaan kita
sekarang adalah
apakah kata-kata
Yesus itu bisa
dipercaya?
Bukankah ada
kemungkinan bahwa
Yesus sementara
membohongi para
pengikut-Nya?
Bukankah setiap
orang dapat
mengatakan dirinya
sebagai Allah
walaupun itu adalah
sebuah kebohongan?
Hal inilah yang akan
dibahas dalam
bagian terakhir dari
tulisan ini.
Almarhum C.S. Lewis
seorang apologet
Kristen terkemuka,
profesor di
Universitas
Cambridge, yang
dulunya adalah
seorang agnostic
(orang yang tidak
mengakui adanya
Allah), pernah
menjawab persoalan
semacam ini dengan
membangun sebuah
argumentasi yang
sangat indah. Lewis
berkata : “Di sini
saya mencoba
mencegah siapapun
untuk mengatakan
yang sungguh-
sungguh bodoh yang
sering dikatakan
seseorang tentang
Dia, yaitu ‘Saya
siap menerima Yesus
sebagai seorang
guru moral yang
agung, tetapi saya
tidak dapat
menerima
pernyataan-Nya
bahwa Dia adalah
Allah.’ Justru itulah
satu-satunya hal
yang tidak boleh kita
katakan. Seseorang
yang cuma manusia
saja yang
mengatakan hal-hal
yang Yesus katakan,
tak mungkin seorang
guru moral yang
agung. Pastilah dia
seorang gila-
setingkat dengan
orang yang
mengatakan dirinya
telur goreng – atau
tentulah dia iblis
sendiri yang berasal
dari neraka. Anda
harus menentukan
pilihan anda. Entah
orang ini Anak Allah,
atau orang gila atau
sesuatu yang lebih
buruk lagi.”
Kemudian Lewis
menambahkan,
“ Anda dapat
menyuruh-Nya
menutup mulut-Nya
dengan
menyebutkan-Nya
seorang tolol, anda
dapat meludahi-Nya
dan membunuh-Nya
dengan
menyebutkan-Nya
setan, atau anda
dapat jatuh berlutut
di kaki-Nya dan
menyebut-Nya
Tuhan dan Allah.
Tetapi jangan
menyebutkan omong
kosong dengan
mengatakan bahwa
Dia seorang manusia
dan guru yang
agung. Ia tidak
pernah memberi
pilihan itu kepada
kita. Yesus
menyatakan diri-Nya
sebagai Allah. Ia
tidak membiarkan
pilihan-pilihan lain
terbuka bagi
manusia. Maka
pernyataan-Nya
haruslah salah atau
benar. Karena itu
kita, setiap manusia,
harus
mempertimbangkan
dengan sungguh-
sungguh.
Pertanyaan-Nya
yang dikatakan pada
murid-murid-Nya,
“ Tetapi menurut
kamu, siapakah
Aku?” (Mat 16:15),
mempunyai
beberapa alternatif.
Pertama mari kita
mempertimbangkan
kemungkinan bahwa
pernyataan-Nya
sebagai Allah adalah
salah. Kalau
pernyataan itu salah,
maka hanya
mempunyai dua
alternatif saja. Entah
Yesus tahu bahwa
pernyataan-Nya itu
salah, atau Dia tidak
mengetahuinya.
Untuk memahami
maksud Lewis,
baiklah saya
jelaskan kembali.
Yesus menyatakan
diri-Nya sebagai
Allah. Pernyataan
Yesus ini mempunyai
dua kemungkinan :
(1) Yesus berbohong
(2) Yesus jujur.
Jika Yesus
berbohong maka
jelas Dia bukan Allah
namun jika Yesus
jujur maka DIA
ADALAH ALLAH.
Seandainya Yesus
berbohong maka
masih terdapat lagi
dua kemungkinan :
(1) Yesus tahu/sadar
bahwa Ia berbohong
(2) Yesus tidak
sadar/tidak tahu
bahwa Ia berbohong.
Jika Yesus tahu atau
dasar bahwa Ia
berbohong berarti Ia
dengan sengaja
membohongi
pengikut-pengikut-
Nya. Kalau ini yang
terjadi maka tidak
dapat dihindari
sebuah fakta yakni
YESUS ADALAH
SEORANG PENIPU
ULUNG. Lalu
bagaimana kalau
seandainya Yesus
tidak tahu bahwa Ia
sementara
berbohong? Jika
Yesus sementara
berbohong namun Ia
tidak tahu / tidak
sadar bahwa
berbohong maka
sesungguhnya YESUS
ADALAH SEORANG
GILA. Dengan
demikian di hadapan
fakta pengakuan
Yesus bahwa diri-
Nya adalah Allah, kita
mempunyai tiga
kemungkinan :
(1) YESUS ADALAH
PENIPU
(2) YESUS ADALAH
ORANG GILA
(3) YESUS ADALAH
ALLAH.
Kita akan menyimak
3 kemungkinan ini.
Yesus Penipu?
Apakah Yesus
seorang penipu? Ya.
Ia adalah seorang
penipu bahkan
penipu ulung
seandainya Ia
mengatakan bahwa
diri-Nya adalah Allah
padahal
sesungguhnya tidak
demikian. Namun
benarkah Ia adalah
seorang penipu? Jika
kita mempelajari
laporan-laporan Injil
dengan sikap jujur
dan obyektif maka
kita akan mendapat
suatu kesan yang
sangat kuat bahwa
Yesus adalah
seorang guru moral
yang sangat baik.
Josh Mc. Dowell
berkata : “Di
manapun Yesus
diberitakan, ternyata
kehidupan manusia
berubah menjadi
lebih baik. Ada
pencuri-pencuri yang
telah berubah
menjadi orang-orang
yang jujur. Pecandu
alkohol
disembuhkan.
Pendengki menjadi
saluran kasih. Dan
mereka yang tidak
adil menjadi orang
yang adil’. (Bukan
Sekedar Tukang
Kayu ; hal. 2). William
Lecky, salah seorang
dari ahli-ahli sejarah
Inggris yang paling
terkemuka, dan
seorang lawan gigih
terhadap agama
Kristen yang
terorganisasi,
menulis : ‘ Agama
Kristen terbukti
bukan saja
merupakan satu-
satunya pola
kebajikan yang
tertinggi, melainkan
pula dorongan yang
paling kuat bagi
prakteknya … .
Catatan sederhana
dari kehidupan aktif
Yesus selama tiga
tahun yang singkat
ini telah berjasa lebih
banyak untuk
mengubah serta
melunakkan manusia
daripada semua
pencarian para ahli
filsafat dan semua
desakan dari kaum
moralis’. (Lecky
dalam Bart Larson :
Who is Jesus ?; hal.
23). Memang benar.
Yesus adalah
seorang guru moral
yang sangat baik. Hal
ini diakui bahkan
oleh orang-orang
yang menolak
keilahian-Nya.
Namun persoalannya
adalah bagaimana
mungkin seseorang
menerima Dia
sebagai seorang
guru moral yang baik
namun menolak
pengakuan diri-Nya
sebagai Allah. Jika
Yesus seorang guru
moral yang baik
maka Ia tidak
mungkin menipu. Ia
tidak mungkin
mengatakan sesuatu
yang tidak benar. Ia
tidak mungkin
mengatakan diri-Nya
sebagai Allah kalau
tidak demikian
adanya. Jika Ia
adalah guru moral
yang sangat baik
maka Ia tidak
mungkin menipu
maka tentunya Ia
tidak akan mengaku
diri-Nya sebagai
kecuali memang
benar demikian.
Mengakui bahwa
Yesus adalah guru
moral yang baik
namun menolak
keilahian-Nya adalah
sebuah kontradiksi
besar. Mac Dowell
menulis tentang
Yesus : Seorang
tokoh yang begitu
orisinal, begitu
lengkap dan begitu
konsisten, begitu
sempurna, begitu
manusiawi dan pada
saat yang sama
begitu tinggi
melampaui segala
kebesaran umat
manusia, tak
mungkin menjadi
seorang penipu atau
tokoh khayalan
belaka. Dalam hal ini,
si penyair, seperti
telah dikatakan,
tentunya lebih hebat
daripada si
pahlawan.
Diperlukan lebih
daripada sekedar
seorang Yesus untuk
mengkhayalkan
seorang Yesus. (Mc.
Dowell : 2).
Sejarawan Philip
Schaff
mengemukakan
argumen yang
meyakinkan dalam
melawan anggapan
bahwa Yesus adalah
seorang
pembohong : “Bila
ditinjau dari sudut-
sudut logika, akal
sehat dan
pengalaman,
bagaimana mungkin,
seorang penipu,
yaitu seorang yang
penuh tipu daya,
egois dan rusak
akhlak, telah
menciptakan tabiat
yang paling murni
dan mulia yang
pernah dikenal
dalam sejarah, yang
begitu sempurna,
yang begitu
sempurna dalam hal
kebenaran dan
realitas, serta
berhasil
mempertahankannya
sejak semula sampai
akhir secara
konsisten?
Bagaimana mungkin
Ia berhasil
menciptakan dan
berhasil
melaksanakan suatu
rencana yang tak
terbanding manfaat
kebaikannya,
kebesaran moralnya
dan keagungannya,
serta mengorbankan
hidupnya sendiri
untuk hal itu,
sementara
menghadapi
prasangka-
prasangka yang
paling kuat dari
bangsanya sendiri
dan zamannya?
(Jesus Christ ; 12).
Jelas sudah, Yesus
bukan seorang
penipu atau
pembohong.
Yesus Orang Gila ?
Kemungkinan kedua
yang perlu dipikirkan
adalah apakah Yesus
orang gila ? Yesus
memang pernah
dituduh sebagai
orang gila oleh
keluarga-Nya namun
benarkah Ia seorang
gila ? Dokter Arthur
P. Noyes dan
Lawrence C. Kolb
menggambarkan
seorang yang
menderita penyakit
jiwa schizophrenia
sebagai orang yang
sifatnya lebih
terpusat pada
pikiran tentang
dirinya sendiri dan
dunia khayalan
daripada bersifat
realistis. Keinginan
seorang
schizophrenia sudah
melarikan diri dari
dunia realistis.
Apakah ini cocok
dikenakan pada
Yesus ? Berdasarkan
hal-hal yang kita
ketahui tentang
Yesus, sulit untuk
dibayangkan bahwa
Dia adalah orang
yang tidak waras
pikiran-Nya. Dia
adalah seorang laki-
laki yang
mengatakan
sebagian ucapan-
ucapan yang artinya
paling dalam yang
pernah dicatat oleh
manusia. Ajaran-
ajaran-Nya telah
membebaskan
banyak orang yang
sebelumnya terikat
secara mental. Clark
H. Pinnock bertanya :
“Apakah Ia
terkecoh tentang
kebesaran-Nya itu?
Apakah ia penderita
paranoia, seorang
yang tak sengaja
menipu, seorang
schizophrenis?
(Pinnock dalam
Larson, hal. 17).
Sekali lagi,
kecakapan dan
kedalaman ajaran-
ajaran-Nya
mendukung
kesehatan mental-
Nya secara
menyeluruh. Kalau
kita jujur maka kita
pasti berkesimpulan
bahwa Ia tidak gila.
Kecuali kita gila. Mc.
Dowell mengutip
kata-kata J. T.
Fisher, seorang
psikiater :
“Seandainya kita
mengumpulkan
keseluruhan artikel
bermutu yang
pernah ditulis para
psikolog dan
psikiater yang paling
berbobot tentang
kesehatan mental –
seandainya kita
mengkombinasikan
serta
memperbaikinya dan
membuang segala
kata yang hanya
merupakan hiasan,
dan seandainya kita
mengumpulkan
setiap bagian dari
pengetahuan ilmiah
yang murni dan tidak
menyeleweng ini,
yang secara tepat
dan padat
diungkapkan oleh
para penyair paling
pandai yang hidup
sekarang ini, kita
akan memiliki suatu
ringkasan yang
janggal dan tidak
lengkap dari Khotbah
di Bukit. Dan bila
diperbandingkan
dengan Khotbah di
Bukit, maka
ringkasan itu akan
sangat tidak
memadai. Selama
hampir 2000 tahun
dunia Kristen telah
memegang dengan
tangannya jawaban
yang lengkap
terhadap keinginan-
keinginannya yang
penuh kegelisahan
dan kesia-siaan. Di
sini … terdapat
rancangan bagi
kehidupan manusia
yang dapat berhasil
dengan optimisme,
kesehatan mental
dan kepuasan. (Mc.
Dowell : 3).
Semuanya itu
membuktikan bahwa
Yesus bukan orang
gila. Ketika Dia
mengatakan bahwa
diri-Nya Allah, Ia
sementara berbicara
dalam seluruh
kesadaran dan
kewarasan-Nya.
Hanya orang gila
yang mengatakan
bahwa Yesus orang
gila.
Yesus Allah?
Jika kemungkinan
pertama (Yesus
penipu) dan kedua
(Yesus orang gila)
gugur maka hanya
tinggal satu
kemungkinan yakni
Ia adalah Allah. Ya!
Ketika Yesus
mengatakan bahwa
diri-Nya adalah Allah,
Ia mengatakan
dengan seluruh
kesadaran dan
seluruh ketulusan
dan kejujuran maka
kita tidak dapat
menolak fakta
penting bahwa Ia
adalah Allah.
Masalah dengan
ketiga pilihan ini
bukanlah pilihan
mana yang mungkin,
karena jelas sekali
bahwa ketiga-
tiganya itu mungkin.
Melainkan
pertanyaannya
adalah, “Pilihan
mana yang paling
mungkin?”
Siapakah Yesus
Kristus menurut
anda tidak boleh
menjadi suatu
latihan intelektual
yang iseng-iseng
saja. Anda tak dapat
mengesampingkan-
Nya sebagai seorang
guru moral yang
agung. Itu bukan
pilihan yang sah.
Atau bahkan Dia
seorang pembohong,
seorang gila atau
Tuhan dan Allah.
Anda harus
menentukan pilihan.
“Tetapi” demikian
tulis rasul Yohanes,
“Semua yang
tercantum di sini
telah dicatat, supaya
kamu percaya,
bahwa Yesuslah
Mesias, Anak Allah,
dan “ – yang lebih
penting lagi –
“supaya kamu oleh
imanmu memperoleh
hidup dalam nama-
Nya” (Yoh. 20:31).
Bukti dengan jelas
menunjukkan bahwa
Yesus adalah Tuhan,
tetapi sejumlah
orang tertentu
menolak bukti yang
jelas ini karena
implikasi-implikasi
moral yang terlibat
dengannya. Mereka
tak mau menghadapi
tanggung-jawab
atau implikasi dari
menyebut Yesus
sebagai Tuhan.
BAGAIMANA
PENDAPAT SAUDARA?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar